Friday, October 31, 2008

Katakan "TIDAK"

Dalam sebuah pertemuan, beberapa manajer dan pimpinan sebuah perusahaan kecil bertanya pada saya, “Etiskah bila kita menolak permintaan kenaikan honor dan gaji karyawan, di saat perusahaan juga tengah susah seperti saat ini?”. Pertanyaan itu menyadarkan saya kembali, betapa banyaknya dan betapa seringnya kita merasa sulit mengungkapkan ‘kabar buruk’ atau berkata ‘tidak’ pada orang lain. Kesulitan mengungkapkan ‘kabar buruk’ dan ‘berkata tidak’ ini ternyata tidak semata terjadi pada saat kita berada dalam posisi ‘tidak berdaya’, tapi bahkan juga pada saat kita ‘full power’ sebagai atasan ataupun pejabat. Berada di era informasi di mana beragam pilihan setiap waktu dihadapkan pada kita, tentunya menjadikan kita betul-betul perlu serius dan hati-hati untuk memilih dan memutuskan hal-hal yang kita rasa sebagai tindakan yang paling tepat, apalagi dalam situasi sulit yang menuntut kita untuk menghasilkan produktivitas tinggi. Memang, tindakan yang benar tidak selalu populer dan tidak akan bisa menyenangkan hati semua pihak. Tengok betapa pasangan Budiono - Sri Mulyani berusaha meredakan kepanikan di tengah situasi ekonomi yang masih seperti roller coaster seperti sekarang, dengan mengeluarkan kebijakan-kebijakan beresiko, yang belum tentu disetujui banyak pihak. Bisa kita bayangkan betapa sulitnya duet karismatik ini ‘menolak’ dan berkata ‘tidak setuju’ dalam rapat-rapat penentuan kebijakannya. Mungkin hampir semua dari kita, terutama dalam budaya timur kita, setuju bahwa mengatakan ‘tidak’ memang sulit diterapkan karena mengundang rasa kikuk, rasa bersalah, ketegangan bahkan ketakutan akan rusaknya persahabatan dan karir. Itulah sebabnya banyak orang yang tidak memilih mengatakan ‘tidak’ tetapi juga tidak mengatakan apa-apa sehingga tidak ada tindakan yang dilakukan. Sudah Bisakah Kita Menyatakan “Ya”? Bisa jadi salah satu kesulitan kita untuk mengatakan ‘tidak’, adalah karena kita juga kadang mengatakan ‘Ya’ untuk sesuatu yang sebenarnya tidak sepenuhnya kita setujui. Maksudnya, kita ‘Iya-iya saja’, tanpa betul-betul mengambil tanggung jawab atau follow up dan komitmen terhadap hal yang kita ‘Iya’-kan itu. Misalnya, kita biasanya tanpa banyak pikir panjang menyatakan ‘setuju’ untuk mematuhi seluruh peraturan perusahaan, saat kita baru bergabung dengan perusahaan tersebut. Saat men-download sebuah software ke komputer, kita pun biasanya tidak mau repot membaca term dan condition yang dipersyaratkan, dan segera meng-klik tanda ‘Setuju’, tanpa memahami isinya. Kita pun biasanya tidak terlalu ambil pusing saat menandatangani ijab pernihakan untuk mengikat janji setia dan saling mencintai. Teman saya, seorang manajer keuangan, mundur maju bila menolak pinjaman karyawan, ataupun permintaan lain. Ia mengemukakan, “Saya ini terlalu baik untuk jabatan saya. Jadi tidak bisa bilang tidak”. Padahal dalam sikap ‘baik’-nya itu, ia banyak menyetujui hal-hal yang sebenarnya kurang diyakininya. Bila komitmen dan persetujuan yang kita buat betul-betul disadari dan dan dipatuhi, kita pasti akan merasa lebih mantap dan lebih pasti dalam menjalankan tugas dan kegiatan kita. Kita pasti akan lebih ‘ringan’ untuk menolak permintaan, karena kita sudah mempunya ‘daftar’ panjang dari apa yang sudah kita sepakati. Di beberapa perusahaan, komitmen untuk memegang etika, ‘good governance’ diperbaharui tiap semester atau tiap tahun. Tujuannya semata-mata mengingatkan karyawan agar tetap berpegang pada hal-hal yang sudah disetujuinya, sehingga karyawan ingat untuk tidak melakukan hal-hal yang melanggar apa yang sudah dia ‘komit’. Berkata tidak sebenarnya adalah membuat batas yang jelas antara apa yang kita ‘Iya’-kan dan apa yang tidak kita ingin ‘Iya’kan. Orang akan sulit menolak bila ia tidak bisa membedakan kedua hal ini dengan jelas. Sebaliknya, orang lebih berani menolak, bisa ia tahu bahwa pe-er komitmennya sudah sederet dan harus diselesaikan dahulu. Menarik ‘Keyakinan’ ke ‘Kesadaran’ Suatu ketika, seorang teman saya ragu saat ia merasa perlu menolak sebuah proposal dari rekanan yang sebenarnya sangat ia respek. Setelah beberapa saat berkutat dengan kesulitannya mengambil keputusan, akhirnya ia mengajak rekanannya berdiskusi untuk menyamakan persepsi, saling mengecek keyakinan dan mendapatkan ‘common ground’. Pada akhirnya, penolakan yang ia lakukan tidak lagi terasa berbentuk ‘penolakan’, tetapi menjadi keputusan bersama. Untuk bisa lebih mantap dalam bertransaksi atau mengambil keputusan, kita memang perlu menarik apa yang kita yakini ke kesadaran, sehingga kita bisa sangat ‘clear’ dengan keputusan kita. Keyakinan bahwa kita tidak selalu benar dan tidak selamanya merupakan sumber kebenaran juga perlu kita tanamkan dalam-dalam. Namun, sikap ini juga harus diseimbangkan dengan keyakinan bahwa kita tidak selalu salah pula. Dengan sikap yang seimbang ini kita bisa lebih berani bereksperimen dan mengambil risiko, serta lebih siap untuk menghadapi kesalahan atau sikap yang tidak menyenangkan dari pihak lain. Respek Diri Sendiri maupun orang lain Ketrampilan mengatakan tidak sebenarnya akan menjamin kesehatan mental dan merupakan suatu nilai yang membuat kita, lingkungan dan dunia kita lebih anggun dan berbudaya. Dengan tidak mengambangkan keputusan, tidak mengulur-ulur jawaban, kita sebetulnya menunjukkan respek kita ke orang lain dan otomatis meningkatkan respek kita ke diri sendiri, karena menghargai waktu dan menghayati urgensi. Respek inilah yang sering tidak kita perhitungkan dalam transaksi hubungan interpersonal. Padahal, dari respeklah kita bisa meningkatkan ‘sense of worth’, kualitas pribadi kita. Dengan merespek diri kita sendiri dan orang lain, kita bisa lebih jelas memandang masalah di antara kita dan orang lain, kita bisa lebih ‘mendengar’ dan membaca situasi, keyakinan dan kebutuhan orang lain, lebih menggali untuk memikirkan apakah akan menolak atau meng-’iya’-kan suatu tindakan. EXPERD CONSULTANTAdding value to business resultsPlaza Pondok Indah 3 Blok C/2Jl. Tb. Simatupang Jakarta 12310Telp. 021-7590 6448Fax. 021-7590 6442http://www.experd.com

Sunday, October 26, 2008

Lehman Brothers bangkrut

Dan Lehman Brothers pun Bangkrut

Setelah libur panjang usai, kita dihadapkan pada berita-berita mengkhawatirkan dari Amerika. Krisis finansial Amerika yang diawali dari kejatuhan Lehman Brothers semakin meluas dampaknya. Akankah berimbas ke Indonesia? Bisa jadi. Kondisi bisnis dan ekonomi serba tidak menentu. Tidak ada yang bisa meramalkan secara tepat dan akurat apa yang akan terjadi sekian bulan ke depan. Sebagai pekerja, apa yang bisa kita lakukan untuk mengantisipasinya? Mungkin tidak banyak. Tetapi beberapa hal berikut ini mungkin bisa disimak dan dijadikan bahan pemikiran:

  1. Krisis keuangan biasanya akan menelan banyak korban. Akan ada perusahaan-perusahaan yang tumbang. Kadang tidak pandang bulu. Tidak peduli berapapun umurnya, berapapun besarnya. Lehman Brothers yang semula begitu bergengsi dan sudah berdiri sejak tahun 1850, akhirnya jatuh dengan dramatis. Tidak ada perusahaan yang betul-betul aman dan bisa menjamin keamanan berkarir bagi karyawannya.
  2. Perusahaan yang terkena imbas krisis mungkin terpaksa harus melakukan PHK atau mungkin merumahkan karyawannya untuk sementara waktu. Mungkin sebagian, mungkin juga seluruhnya.
  3. Karyawan seperti apa yang pertama akan dikorbankan?Yang kontribusinya paling sedikit dan yang tidak menunjukkan performa kerja yang baik. Perusahaan akan menghargai dan bila memungkinkan pasti akan mempertahankan karyawan yang memiliki performa kerja yang baik dan berprestasi. Karyawan yang sudah tidak bisa menunjukkan performa kerja yang baik, tak peduli berapa tahun ia sudah bekerja, pasti akan disingkirkan terlebih dahulu. Loyalitas pada perusahaan tanpa performa kerja yang baik tidak akan ada harganya.
  4. Karyawan seperti apa yang bisa terselamatkan? a. Karyawan yang loyal pada profesi dan prestasi, yang tidak terlena dalam zona nyamannya setelah diangkat sebagai karyawan tetap. Seorang profesional yang loyal pada profesi dan prestasi kerja akan terus menerus bekerja keras sejak hari pertama kerja hingga hari terakhirnya. Ia juga senantiasa mempertajam dan memperdalam pengetahuan serta ketrampilan di bidangnya, sehingga ia tetap memiliki “daya jual” baik di perusahaan tempatnya berkarir ataupun di perusahaan lainnya. b. Karyawan yang profesional dan memiliki reputasi baik. Reputasi yang baik di dunia kerja adalah modal dasar yang sangat besar artinya. Jaringan hubungan antar manusia yang begitu kompleks kadang bentuknya tidak seperti mata rantai yang linear melainkan menyerupai jaring laba-laba. Banyak orang sebetulnya saling terhubung satu sama lain tanpa menyadarinya. Misalnya kita dikenal oleh si A karena ia kenal dengan klien kita, atau karena ia berteman baik dengan bekas rekan kerja kita di kantor sebelumnya, sehingga latar belakang dan reputasi kita menjadi sesuatu yang transparan bagi orang lain.
  5. Bagaimana bila kita sudah menjadi karyawan yang profesional, berprestasi dan memiliki reputasi baik? Ada juga yang bisa dilakukan mulai dari sekarang sebagai langkah antisipasi. Segera perluas network dan selalu dekatkan diri dengan sumber-sumber informasi tentang peluang karir. Jangan ragu untuk mencoba peluang-peluang baru yang menjanjikan, yang bisa datang dari mana saja, dari sumber yang mungkin tidak pernah Anda duga.
Jadi setelah libur panjang usai, kini saatnya Anda kembali fokus pada karir Anda. Selamat bekerja dan selamat mengejar karir impian Anda!

Friday, October 17, 2008

sense of urgency

Seorang manajer mengeluh bahwa walaupun pencapaian target bagiannya hampir selalu tercapai, ia merasa bahwa teman-teman di bagiannya kurang berinisiatif untuk mengejar target baru dan kurang kreatif dalam mencari tantangan baru. Bahkan, ada yang berkomentar mengenai dirinya sebagai orang yang tidak pernah puas dan pesimis. “Sebenarnya yang saya inginkan adalah anak buah bisa merasakan sense of urgency, sehingga mereka lebih siap dengan perubahan pasar dan realitas kompetisi. Dalam perasaan nyaman begini, mana mungkin mereka mengidentifikasi dan mendiskusikan potensi krisis sekaligus kesempatan-kesempatan besar?” Ketika pada tahun 1989 Stephen R. Covey mengentaskan konsep manajemen waktu, dalam buku 7 HABITS , yang diantaranya mengemukakan pentingnya membedakan hal yang “penting dan mendesak (urgen)” dan hal yang “penting dan tidak mendesak”, kita dibuat menyadari betapa kita harus membedakan antara apa yang ‘penting’ dan apa yang ‘urgen’. Stephen Covey mengingatkan bahwa kita seringkali hanya berkonsentrasi pada yang hal yang mendesak (urgen), yang sudah bermasalah dan harus cepat ditangani, karena sebelumnya hal-hal ini diabaikan, tidak diperhatikan karena dianggap tidak penting. Sekarang kita kurang lebih sudah lihat hasilnya : budaya mementingkan “yang penting” menjadi semakin kuat. Buktinya kata ‘penting ‘menjadi sangat popular di lingkungan pergaulan. “Ah, nggak penting….” kata seorang remaja atau “Atasan saya hanya mengurusi yang ‘tidak penting’ …” demikian ujar seorang karyawan perusahaan. Mengutamakan hal yang “penting” tentunya merupakan sikap antisipatif yang sangat positif, misalnya menyelesaikan laporan sebelum waktunya, mengecek peralatan secara rutin, melaksanakan pengawasan berkala, melakukan rapat reguler dan komunikasi efektif, sehingga kita bisa menekan munculnya masalah yang urgen. Pertanyaannya, apakah perhatian terhadap hal-hal yang penting ini juga mencakup perhatian kita terhadap terpeliharanya mental waspada dan sikap “bergegas” kita dalam bekerja ? “Sense of urgency” tidak sama dengan ‘menghadapi “urgency” ‘ Dalam dunia kerja dan bisnis sekarang, kita tentunya harus mempertanyakan kapan masih bisa menerapkan faham “alon-alon asal kelakon”. Kita bisa memilih mengatakan pada rekan kerja kita: “Ayo ini sudah bulan oktober” atau “Ini masih bulan oktober”. Kecenderungan untuk hidup ‘enak’ , menutup mata dari kabar buruk dan dorongan untuk menghindar dari kenyataan pahit, sering membuat kita menjerumuskan diri dan tim kita dalam posisi ‘nina bobo’ alias comfort zone. Keadaan ini dipersubur bila tidak ada ukuran yang obyektif mengenai kinerja dan sikap yang diinginkan, sehingga tanpa terasa individu semakin nyaman berada di daerah abu abu dan menghindari konfrontasi hitam putih. Di sebuah bank klien saya, baru-baru ini beredar sebuah slogan unik: “No business as usual”, yang agak bertentangan dengan budaya di dunia perbankan yang biasanya mengembangkan sikap konservatif, mantap dan pasti. Sentakan yang dilontarkan pimpinan perusahaan ternyata menghasilkan tingkat kewaspadaan karyawan yang lebih baik, sehingga semangat kompetisi dan memenangkan tantangan menjadi lebih kuat. Tentunya peningkatan kewaspadaan ini bisa dicapai bila organisasi tidak bosan bosannya menyiapkan sasaran-sasaran baru, meningkatkan tantangan penjualan, produktivitas maupun kepuasan pelanggan, dan berkomunikasi secara jujur dan terbuka tentang kejadian enak dan tidak enak di dalam dan di luar perusahaan. Tidak banyak “happy talk” lagi dalam meeting, namun komunikasi digantikan dengan fakta-fakta mengenai pencapaian target, kesempatan di masa depan dan keberhasilan orang luar. Kondisi inilah yang membangunkan individu agar tidak terlalu banyak berkonsentrasi pada upaya ‘menyamankan diri’ dan mendorong diri untuk bersikap waspada, dinamis dan berkeinginan untuk menyambut tantangan baru atau “urgency” yang sesungguhnya. ‘4-A’ Sense of urgency Seorang salesman saya terperangah, ketika saya tanyakan sasaran penjualan berikutnya, sesaat setelah baru saja kami sukses menutup sebuah penjualan yang ‘manis’. Mungkin dalam hatinya ia berkata “Nggak ada matinya ibu ini…”. Persoalannya, sense of urgency adalah sebuah siklus yang berpedoman : “Success motivates more success”. Siklus 4-A, yang terdiri dari Achieve – Assess – Activate dan Accelecate dimulai dari sebuah upaya pencapaian tantangan (achievement) yang bila tercapai, segera dievaluasi (assess), kemudian segera direvisi dan dihidupkan kembali (activate) untuk memulai sesuatu yang baru lagi, sambil tak lengah mendorong dan menggenjot energi (accelerate) untuk mengoptimalkan pencapaian hasil. Banyak sekali hal-hal yang bisa menyebabkan individu lengah atau “slow down”, seperti menunggu keputusan,merayakan keberhasilan, menyusun anggaran, faktor birokrasi dan proses di pihak ketiga. Di sinilah sesungguhnya kekuatan kita diuji untuk tetap bergerak, dan mengayuh enerji. Begitu kita berhasil atau “achieve” lagi, kita boleh merayakan suksesnya. Namun, kita tidak boleh terlena karena dengan segera kita pun perlu meng-“assess” dan membuat tantangan baru lagi. “Sense of urgency “ hanya bisa didapatkan oleh individu yang mau menceburkan diri ke dalam siklus yang bergerak kencang , bahkan bergoyang.Jadilah “Person in Motion”. Kita semua pasti setuju bahwa lebih mudah mengendalikan obyek yang bergerak daripada diam. Berpatokan pada hal ini, kita bisa mengadaptasi untuk lebih bersikap dinamis daripada statis. Seorang ahli menyatakan bahwa langkah pertama untuk menghidupkan “sense of urgency” adalah dengan berjalan kaki lebih cepat, sehingga kita juga mensugesti diri sendiri bahwa kita sedang bergegas. Bersikap responsif, misalnya dengan segera menjawab telpon, merespon email, voice mail, blackberry , maupun sms, serta berorientasi ‘action’ seperti ini akan mendorong individu tidak mengijinkan dirinya untuk mencari-cari alasan menunda pekerjaan. Dalam berkomunikasi, kita pun bisa membiasakan untuk tidak berbelit-belit, sehingga orang lain pun terpengaruh untuk berbicara “to the point”. Hal ini membuat kita bisa mengefisiensikan banyak waktu di dalam rapat dan pergaulan. Kita mudah sekali melihat orang lain tidak mengadaptasi “sense of urgency”, padahal kita sendiri pun barangkali mempunyai penyakit yang sama. Karenanya , bergeraklah, “Do it now!” EXPERD CONSULTANTAdding value to business resultsPlaza Pondok Indah 3 Blok C/2Jl. Tb. Simatupang Jakarta 12310Telp. 021-7590 6448Fax. 021-7590 6442http://www.experd.com