Sunday, February 22, 2009

smart 'lobby'- ing

SMART ‘LOBBY’-ING

Eileen Rachman & Sylvina Savitri

EXPERD

One-day Assessment Centre (Ditayangkan di KOMPAS, 7 Februari 2009)

Setiap kita yang ingin mencapai tujuan, baik karir, memenangkan tender, berjaya di percaturan politik, bahkan pengembangan pribadi, tentunya sangat sadar akan kebutuhan untuk menggenjot ‘power’. Di jaman dulu, jaman para amtenar, jabatan atau kewenangan yang kita miliki sering kita gunakan sebagai kekuatan yang paling utama. Namun, kini semakin kita sadari bahwa pengaruh pribadi, kemampuan persuasi dan ‘lobby’, memberikan power yang juga luar biasa besar. Saya teringat satu kejadian, di mana saya melihat seorang anggota wakil rakyat berusaha untuk mengubah jadual penerbangannya di salah sebuah konter maskapai penerbangan lokal. Dengan suara keras, beliau berusaha meyakinkan petugas:Anda lihat sendiri kan, siapa saya?”. Petugas yang senyum-senyum tidak berdaya dan menampilkan muka bertanya-tanya itu, mungkin benar-benar tidak mengenal bapak pejabat tersebut. Dalam hati, saya berpikir, Ini baru memperjuangkan satu tempat di pesawat, bagaimana kalau beliau meyakinkan orang lain untuk keputusan penting demi Negara?”

Kekuatan pengaruh pribadi, bahkan kekuasaan yang sering menyertai jabatan atau pangkat sebetulnya tidak perlu ‘dipaksakan’ ke orang lain ataupun publik, tetapi juga, tidak bisa datang begitu saja. Setiap individu yang perlu meyakinkan orang lain, terutama bukan sekedar untuk membeli produk atau jasa, tetapi mendukung filosofi, visi dan misi, misalnya saja milik partai, sebenarnya bisa mencari taktik dan strategi yang lebih ampuh lagi. Di saat Indonesia sedang menghadapi pemilu dan percaturan politik, kita sama-sama perlu memandang pentingnya kegiatan ‘lobby’ yang benar.

Menjual Diri Tidak Bisa Instan

Saat menjelang pemilihan umum seperti sekarang, kita menyaksikan foto-foto calon politisi bisa ditebar hampir di semua ruang publik, baik dalam ukuran mini sampai raksasa. Hampir semua mencantumkan, ‘infomercial’ khusus, seperti gelar akademis lengkap atau bahkan keterangan seperti kerabat dari selebriti, pejabat atau bahkan pahlawan revolusi, dengan keyakinan bahwa ‘credential-credential’ ini bisa mempengaruhi publik.

Dalam bukunya, Dig Your Well Before You’re Thirsty, Harvey MacKay mengatakan bahwa sebenarnya, setiap orang mempunyai aspek daya jual, baik itu seputar pengalaman, pengetahuan, ketrampilan, kompetensi, minat, sasaran, maupun visi. Tentunya aspek ini makin besar kekuatan ‘jual’-nya bila telah diimplementasikan dan dipraktekkan secara intensif dalam kehidupan sehari-hari. Pertanyaannya, sudahkan ‘modal’ kita ini dijajakan keliling, justru jauh-jauh hari, sebelum diperlukan?

Kegiatan-kegiatan ‘lobby’, mulai dari kunjungan ke kantor dan lembaga penting, bertukar pendapat, menulis di media, menulis surat dan menelpon orang-orang penting, menghadiri pertemuan,menginisiasi kegiatan kegiatan publik, memang pada akhirnya bersasaran agar kita bukan saja ‘mengenal’, tetapi juga ‘dikenal’ orang lain. Semua upaya ini tentunya perlu dilakukan jauh-jauh hari, sehingga kita tidak terkesan sebagai orang yang hanya mau mendekati orang lain, bila ada maunya. Bila ingin populer, mempunyai ‘fans’ alias dipilih, kegiatan‘networking’ perlu dijadikan kegiatan rutin dan bahkan gaya hidup.

Terkadang orang menyamakan ‘networking’ dengan sekedar kumpul – kumpul, main golf atau bahkan ‘dugem’ bersama saja. Padahal, banyak hal yang bisa kita lakukan demi ‘networking’ dan kita benar-benar bisa terjun dalam kancah pergaulan yang cerdas. Jangan lupa bahwa target networking adalah dimilikinya sebuah jejaring pertemanan yang kuat. Di lingkungan inilah kita perlu secara aktif memberi kontribusi, menolong, menyumbangkan keahlian, memberi saran, pendapat dan dukungan bagi orang – orang dalam lingkungan ‘network’ kita. Sehingga, bila suatu saat kita membutuhkan, dengan sendirinya orang lain, yang sudah berada dalan ‘network’ kita, otomatis memberi dukungan. Hanya bila networking kita kuat, maka kita bisa menyebarkan pengaruh dengan lebih efektif, sekaligus melakukan ‘lobby’ untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Lebih ‘advance’ lagi, di dalam kancah politik targetnya bukan saja dekat dengan teman dan pendukung yang dibutuhkan, tetapi juga dengan musuh-musuh politik kita. Ingat kalimat bijak:“Keep your friends close and your enemies closer.” Fleksibel namun Punya Visi Super Jelas.

Sejak jaman reformasi, kita semakin menyadari adanya kekuatan dari kegiatan ’’lobby’’ yang benar. Bahkan di gedung MPR-DPR, kegiatan ‘lobby’ bisa disaksikan oleh rakyat melalui media. Hal yang bisa kita saksikan juga bahwa kegiatan ‘lobby’ bisa sangat efektif bila individu tahu menggunakan pesona dan kualitas pribadinya untuk menyampaikan pendapat dan mempengaruhi orang lain. Kegiatan ‘lobby’ akan makin mantap bila individu mampu menggambarkan isu, gerakan, prinsip beserta solusi dan alasannya dengan tepat dan persuasif. Sulit untuk bisa memukau orang untuk merubah keputusan atau mendukung sebuah tujuan, bila individu yang mempengaruhi tidak kuat bahkan tidak menguasai substansi persoalan, dalam bicaranya. Menyadari bahwa dalam kegiatan ‘lobby’ terjadi pertukaran informasi, pendapat, pengalaman, bahkan kenalan, seorang pelobi, walaupun tampil fleksibel dan berperan sebagai pendengar yang baik, perlu obsesif terhadap prinsip, ideologi serta visi yang disasarnya.

Lobby’ing: Butuh Kreativitas

Di dunia maya terpopuler jaman sekarang, Facebook, kita bisa menyaksikan ribuan gerakan kreatif yang dimulai oleh satu orang individu . Asosiasi anti berkendara pada saat mabuk, juga dulu dimulai oleh hanya satu orang, dan akhirnya bisa mempengaruhi pemerintah untuk membuat peraturan ketat bahkan hukuman terhadap orang yang masih melanggarnya. Sebut saja perjuangan perjuangan lain yang bisa mengubah keputusan pemerintah, seperti gerakan anti pekerja anak, penyadaran lingkungan, anti poligami, pengamanan sosial yang berhasil menggerakkan masyarakat dan pemerintah melalui ‘lobby’-’lobby’ yang tidak kenal lelah. Partai politikpun perlu kreatif mencari cara yang ampuh untuk meyakinkan masyarakat dan pemerintah bahwa wakil-wakilnya akan memajukan Negara melalui prinsip yang diembannya.

Kita sering lupa bahwa ‘lobby’ sangat dibutuhkan, sangat demokratis dan juga butuh kreativitas. Justeru dari kegiatan ‘lobby’ yang digerakkan individu pula kita tak jarang bisa menemukan solusi-solusi yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

EXPERD CONSULTANT Adding value to business results Plaza Pondok Indah 3 Blok C/2 Jl. Tb. Simatupang Jakarta 12310 Telp. 021-7590 6448 Fax. 021-7590 6442 http://www.experd.com

Monday, January 26, 2009

GAZA strip

sekedar untuk tau nama2 tempat di jalur gaza

Friday, January 23, 2009

KONTROL DIRI

Kontrol Diri

Eileen Rachman & Sylvina Savitri EXPERD One-day Assessment Centre

Ditayangkan di KOMPAS, 20 September 2008

Semua orang pasti setuju dengan “magic”-nya puasa di bulan Ramadhan. Kekuatan niat yang begitu besar menjadikan kita yang tadinya tidak kuat menahan haus dan lapar di hari biasa, di bulan Ramadhan bisa melakukannya tanpa merasa berat. Bahkan, dengan puasa penyakit malah sembuh, badan terasa lebih ringan. Latihan kesabaran, kegigihan dan keuletan ini memang benar-benar memberi kesempatan pada diri kita sendiri untuk lebih banyak bertakwa, lebih bisa mengelola diri sendiri dan tentunya “naik kelas” sebagai manusia. Suatu latihan yang sangat berharga untuk individu yang memang ingin mematangkan jiwanya!

Tantangan kita, tentu saja, me-maintain kompetensi kontrol diri, emosi dan pikiran ini setelah usai masa Ramadhan. Sayang sekali bila kita kembali ’loss control’, sehingga upaya latihan kita selama Ramadhan tidak kelihatan impact-nya. Misalnya, kita kehilangan kontrol diri lagi dengan kembali memborong barang yang tidak perlu, boros energi, melanggar lampu lalu lintas, terlambat datang ke kantor, sehingga semangat untuk bersabar dan menjadi manusia yang gigih kembali ke titik nol lagi.

Seorang rekan, yang naik bobot badannya 20kg semasa hamil, menjamin bahwa berat badannya bisa kembali seperti sedia kala dalam waktu 4 bulan. Ketika ditanya kunci kesuksesannya, ia menjawab santai: “Puasa”. Ia mengatakan bahwa dengan berpuasa senin kamis, ia mempunyai kontrol diri terhadap pola makannya. Tiba-tiba ia menyadari bahwa selama ini ia makan berlebihan dan menciptakan mekanisme persepsi terhadap makanan yang beda. Akhirnya pola disiplin dan pola makannya berubah. Ini adalah contoh orang yang memanfaatkan latihan sebagai sarana peningkatan kualitas diri.

Kontrol Diri adalah Senjata Perubahan

Tidak seperti burung-burung yang bermigrasi secara otomatis saat pergantian musim, manusia, mahluk berakal budi paling super di muka bumi ini, memang tidak bisa mengandalkan instingnya lagi untuk berdisiplin. Manusia digerakkan oleh ‘habit’nya. Manusia juga pengambil keputusan yang sangat berbasis emosi, juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya, sehingga ia mudah sekali merubah atau melanggar rencananya sendiri. Itulah sebabnya orang bisa memanfaatkan emosi untuk bisnis, misalnya dengan membuat tren, membentuk komunitas, merangsang konsumerisme dan tanpa sadar menghancurkan pertahanan kontrol diri individu.

Untungnya, keunikan individu membuat manusia mempunyai kontrol penuh atas kemauannya, apakah ia akan memenuhi kebutuhannya atau tidak, memilih kapan ’timing’ terbaik, memilih di mana mendapatkannya dan mengontrol dengan cara apa ia akan memenuhi kebutuhannya. Contoh mudah, kita yang sudah berniat berhenti merokok, tiba-tiba ada di kerumunan perokok, yang menawarkan rokok pula. Pada saat ini, keputusan untuk memilih adalah seratus persen disadari oleh individu. Namun impuls, kebutuhan, keinginan individu bisa berkolaborasi dalam melemahkan kontrol dirinya. Pada saat inilah biasanya rasio atau pikiran individu bekerja, untuk mencari alasan pengampunan terhadap pelanggaran dirinya, untuk mengurangi rasa bersalah, sehingga individu tetap merasa ’seimbang’. Situasi ini kita kenal dengan istilah rasionalisasi alias pembenaran. Pembenaran ini semula hanyalah dialog internal. Namun, bila individu berhadapan dengan lingkungan sosial, maka ia akan menyusun cerita pembenaran yang bisa diterima, sehingga perbuatannya tetap cocok dengan situasi. Disinilah pertahanan kontrol diri bisa bobol dan tanpa sadar, tindakan pelanggaran di-”bela” oleh individu sendiri. Bisa kita bayangkan bagaimana sulitnya berubah tanpa kontrol diri yang kuat. Sebagaimana kita sadari, banyak yang berteori mengenai perubahan tetapi tidak sadar bahwa kuncinya justru ada pada kontrol dirinya. ‘Everybody thinks of changing humanity and nobody thinks of changing himself’ (Leo Tolstoy)

Disiplin sebagai Implementasi Kontrol Diri

Di jaman sekarang, kita jarang menemui orang yang sangat bangga dengan sikap disiplinnya. Bahkan disiplin dikaitkan dengan hukuman, surat peringatan, teguran keras, bahkan PHK. Padahal ini baru penerapan disiplin ‘kelas kambing’. Bila kita mentaati rambu lalu lintas hanya bila ada polisi, tentunya kita tidak bisa mengaku bahwa kita orang yang berdisiplin. Untuk menjadi seorang yang berdisiplin, latihan-latihan mental untuk mengontrol diri harus dilakukan jutaan kali dan melalui proses yang panjang. Latihannya antara lain menahan desakan keinginan sambil mengevaluasi keyakinan, memperkuat motivasi dengan membayangkan hasil akhir yang lebih baik, serta mengelola konflik dengan membayangkan konsekuensi pelanggaran versus komitmen yang dibuat. Disiplin memang sering dimulai dari peraturan, tetapi disiplin yang sebenarnya adalah kalau sudah menjadi persepsi tentang hidup atau gaya hidup. Pada tingkat inilah individu baru bisa bangga pada kompetensinya ini dan bisa merasa percaya diri karena mempunyai sikap mental yang benar.

Untungnya Menjadi Orang yang Terkontrol

Banyak orang mencampuradukkan sikap mengontrol diri dengan sikap kaku, keras, tegang atau terhambat. Sikap ini tentunya sangat berbeda, karena orang yang bisa mengkontrol dirinya, sangat mampu untuk bersikap fleksibel pula. Sementara yang kaku dan terhambat, bisa saja tampil terkontrol, tetapi mudah patah, dan bahkan bisa meledak, lepas kontrol. Orang yang terkontrol biasanya akan tampil tepercaya di pergaulan dan pekerjaan, berintegritas dan yang paling penting, mempunyai daya adaptasi terhadap perubahan. Orang dengan kontrol diri yang baik akan mudah menjadi orang yang inovatif, bahkan dalam pergaulan bisa mengembangkan ‘sense of humor’ dan empatinya. Bagaimana tidak? Orang seperti ini sudah mengalami gemblengan latihan kontrol diri, di luar kewajiban puasa, secara berjuta-juta kali.

EXPERD CONSULTANT Adding value to business results Plaza Pondok Indah 3 Blok C/2 Jl. Tb. Simatupang Jakarta 12310 Telp. 021-7590 6448 Fax. 021-7590 6442 http://www.experd.com

Sunday, December 21, 2008

BERSELANCAR dalam OMBAK PERUBAHAN

BERSELANCAR dalam OMBAK PERUBAHAN Eileen Rachman & Sylvina Savitri EXPERD One-day Assessment Centre Ditayangkan di KOMPAS, 13 Desember 2008 Perubahan pusat kekuatan ekonomi, revolusi teknologi global seperti bio-teknologi dan nano-teknologi, serta berubahnya peta industri dari global ke lokal atau sebaliknya, membuat setiap orang mengumandangkan perubahan. Pepatah kuno yang mengibaratkan perubahan bagaikan ombak, mengatakan: “Yang memberi kita ombak adalah Allah. Bagaimana kita bereaksi terhadapnya, adalah pilihan manusia-nya sendiri-sendiri.” Pada situasi di mana ‘ombak perubahan’ sebesar tsunami, terkadang manusia memang tidak mempunyai pilihan. Namun, dalam kondisi ‘ombak’ lain, kita mempunyai pilihan, untuk sekedar menunggu redanya ombak, berenang mengikuti atau melawan ombak, atau berselancar dan cerdik ‘memilih’ ombak mana yang akan kita tunggangi. Mereka yang jago ‘berselancar’ dalam ‘ombak perubahan’, tentunya akan membukukan cerita ‘manis’. Pada krisis tahun 1998, Garuda Food bahkan melakukan diversifikasi, membeli serta memproduksi biskuit dan jelly secara sukses. Faisal Basri, ekonom kondang telah mengingatkan kita tentang harga saham yang sedang “bagus-bagus”-nya, yang kemungkinan bisa di’caplok’ oleh orang asing terlebih dahulu, sementara kita, bangsa Indonesia bisa ‘ketinggalan kereta’ dalam melihat peluangnya. Lagi-lagi, kemampuan ‘berselancar’ kita yang ditantang. Menangkap Ombak, Mengambil Action Dalam pembicaraan di pesta pesta,maupun pemberitaan di media, kita dikejutkan oleh banyak sekali perubahan, bahkan saking banyaknya dan bertubi tubinya fakta, kita terpukau dan hanya mengeleng-gelengkan kepala . Ada juga yang mampu menganalisa dan segera menyimpulkan tren dan mengira-ngira apa yang akan terjadi. Pertanyaannya, berapa orang yang kemudian membuat keputusan dan mengikutinya dengan action plan? Apa yang akan saya lakukan untuk mengelola cash dan hutang-hutang? Apa yang perlu diganti dalam rencana-rencana saya? Bagaimana saya mempertahankan pelanggan saya? Dalam kepanikan menghadapi krisis, saya melihat bahwa orang bisa saja ‘maju-mundur’ secara ekstrim dalam mengambil keputusan. Padahal keputusan harus diambil. Apakah order akan dibatalkan? Apakah kita akan melanggar komitmen karena besarnya kerugian yang harus kita tanggung? Apakah kita ‘berani rugi’ untuk mempertahankan hubungan baik? Kapan pengorbanan akan membuahkan hasil? Dan, yang juga sangat penting, Apakah kita menyadari untuk membedakan antara keputusan yang berfokus pada keuntungan jangka pendek atau jangka panjang. Isu yang sangat penting, yang justru sering terlupakan oleh kita semua adalah menterjemahkan kebingungan dan ketidakjelasan yang sedang berlangsung ke dalam sebuah keputusan dan tindakan yang akan diambil. Sebaliknya, tekanan yang tiba tiba, dan mengejutkan, seringkali pula menyebabkan kita terlalu gegabah mengambil keputusan. Tengok saja reaksi impulsif masyarakat terhadap perubahan nilai tukar rupiah. Masyarakat yang tanpa pikir panjang merespons perubahan nilai tukar rupiahlah yang justru mengakibatkan semakin ‘goyang’-nya nilai tukar tersebut. Keseimbangan untuk memperoleh informasi akurat sebanyak-banyaknya, memahami apa pengaruh dan dampaknya bagi perusahaan dan diri sendiri, dan kemudian melihat peluang ke masa depan dan mengambil keputusan yang kongkrit hampir-hampir adalah suatu seni. Bila kita tidak awas terhadap perubahan, kita ketinggalan. Sebaliknya, bila kita bertindak terlalu jauh, kita bisa terkubur oleh persoalan-persoalan ‘here and now’ di depan mata. ''You can't grow long-term if you can't eat short-term” . Di sinilah letaknya tantangan untuk menyeimbangkan keputusan jangka pendek versus jangka panjang, menyeimbangkan upaya survival, sambil merencanakan masa depan, serta memperhatikan baik pendekatan humanistik dan holistik. Mencari keseimbangannya inilah yang sulit, meskipun ‘kita bisa’! Waktunya Menggalang Kebersamaan Seperti yang dikatakan Jack Welch :” I don't like to use the word efficiency. It's creativity. It's a belief that every person counts.' Kekuatan baru hanya bisa terbentuk dengan menggalang kebersamaan, melakukan diskusi intensif untuk mendengarkan isu-isu, bersama mempelajari tantangan dan peluang yang ada, membahas bersama action-action untuk recovery, sehingga keluhan dan ketakutan bisa dirubah menjadi komitmen dan optimisme. Dalam situasi inilah sesungguhnya ketrampilan mendengar, berdiskusi, ber-brainstorming paling dibutuhkan. ‘Orang-orang pintar’ di dalam kelompok juga perlu dimanfaatkan agar kita bisa mempertajam kemampuan untuk mengetes asumsi, mengelola keluhan, membaca feedback dan melihat peluang.. Rasa takut dan perasaan tidak nyaman yang dirasakan anggota kelompok adalah sinyal-sinyal yang perlu ditangkap dan dipelajari. Pada saat ini ‘feedback’, walaupun menyakitkan juga sangat berguna untuk menjawab:”so what?’ dari gejala-gejala yang terjadi. Inilah saat yang tepat untuk membentuk ‘alignment’ yang kuat di dalam, sambil bersama-sama memandang jauh ‘keluar’. Fleksibilitas di atas Kompleksitas Mempersiapkan masa depan dalam situasi penuh tekanan, sambil menjaga kestabilan, memang memerlukan stamina, bukan saja intelektual tetapi juga emosional. Kita harus meletakkan ekstra fokus pada doing the right thing – the right way , serta pada ‘timing’ yang tepat pula. Louis V. Gerstner, Jr terbukti melakukannya pada saat IBM diramalkan akan terpuruk tajam, dengan cara ‘membalik ‘bisnis ‘mainframe’ IBM ke bisnis PC. Di sinilah kemampuan kita diuji, apakah bisa lincah dan fleksibel mangarungi kompleksitas. Tentunya para pimpinan perusahaan perlu menambah energi pribadinya untuk mampu mendorong dan menyemangati karyawannya untuk tetap jeli memanfaatkan peluang, menekan biaya, dan menciptakan produk yang murah dengan kualitas tetap prima. Perusahaan yang sukses mengarungi lautan kompleksitas ini adalah mereka yang mampu fokus hanya pada hal-hal penting saja, sambil tetap memelihara fleksibilitas untuk berespon terhadap perubahan, tren serta tekanan baru. Senantiasa ingat kata pepatah:“Opportunity is optimism with a plan creatively applied to the future”. EXPERD CONSULTANTAdding value to business resultsPlaza Pondok Indah 3 Blok C/2Jl. Tb. Simatupang Jakarta 12310Telp. 021-7590 6448Fax. 021-7590 6442http://www.experd.com

Friday, October 31, 2008

Katakan "TIDAK"

Dalam sebuah pertemuan, beberapa manajer dan pimpinan sebuah perusahaan kecil bertanya pada saya, “Etiskah bila kita menolak permintaan kenaikan honor dan gaji karyawan, di saat perusahaan juga tengah susah seperti saat ini?”. Pertanyaan itu menyadarkan saya kembali, betapa banyaknya dan betapa seringnya kita merasa sulit mengungkapkan ‘kabar buruk’ atau berkata ‘tidak’ pada orang lain. Kesulitan mengungkapkan ‘kabar buruk’ dan ‘berkata tidak’ ini ternyata tidak semata terjadi pada saat kita berada dalam posisi ‘tidak berdaya’, tapi bahkan juga pada saat kita ‘full power’ sebagai atasan ataupun pejabat. Berada di era informasi di mana beragam pilihan setiap waktu dihadapkan pada kita, tentunya menjadikan kita betul-betul perlu serius dan hati-hati untuk memilih dan memutuskan hal-hal yang kita rasa sebagai tindakan yang paling tepat, apalagi dalam situasi sulit yang menuntut kita untuk menghasilkan produktivitas tinggi. Memang, tindakan yang benar tidak selalu populer dan tidak akan bisa menyenangkan hati semua pihak. Tengok betapa pasangan Budiono - Sri Mulyani berusaha meredakan kepanikan di tengah situasi ekonomi yang masih seperti roller coaster seperti sekarang, dengan mengeluarkan kebijakan-kebijakan beresiko, yang belum tentu disetujui banyak pihak. Bisa kita bayangkan betapa sulitnya duet karismatik ini ‘menolak’ dan berkata ‘tidak setuju’ dalam rapat-rapat penentuan kebijakannya. Mungkin hampir semua dari kita, terutama dalam budaya timur kita, setuju bahwa mengatakan ‘tidak’ memang sulit diterapkan karena mengundang rasa kikuk, rasa bersalah, ketegangan bahkan ketakutan akan rusaknya persahabatan dan karir. Itulah sebabnya banyak orang yang tidak memilih mengatakan ‘tidak’ tetapi juga tidak mengatakan apa-apa sehingga tidak ada tindakan yang dilakukan. Sudah Bisakah Kita Menyatakan “Ya”? Bisa jadi salah satu kesulitan kita untuk mengatakan ‘tidak’, adalah karena kita juga kadang mengatakan ‘Ya’ untuk sesuatu yang sebenarnya tidak sepenuhnya kita setujui. Maksudnya, kita ‘Iya-iya saja’, tanpa betul-betul mengambil tanggung jawab atau follow up dan komitmen terhadap hal yang kita ‘Iya’-kan itu. Misalnya, kita biasanya tanpa banyak pikir panjang menyatakan ‘setuju’ untuk mematuhi seluruh peraturan perusahaan, saat kita baru bergabung dengan perusahaan tersebut. Saat men-download sebuah software ke komputer, kita pun biasanya tidak mau repot membaca term dan condition yang dipersyaratkan, dan segera meng-klik tanda ‘Setuju’, tanpa memahami isinya. Kita pun biasanya tidak terlalu ambil pusing saat menandatangani ijab pernihakan untuk mengikat janji setia dan saling mencintai. Teman saya, seorang manajer keuangan, mundur maju bila menolak pinjaman karyawan, ataupun permintaan lain. Ia mengemukakan, “Saya ini terlalu baik untuk jabatan saya. Jadi tidak bisa bilang tidak”. Padahal dalam sikap ‘baik’-nya itu, ia banyak menyetujui hal-hal yang sebenarnya kurang diyakininya. Bila komitmen dan persetujuan yang kita buat betul-betul disadari dan dan dipatuhi, kita pasti akan merasa lebih mantap dan lebih pasti dalam menjalankan tugas dan kegiatan kita. Kita pasti akan lebih ‘ringan’ untuk menolak permintaan, karena kita sudah mempunya ‘daftar’ panjang dari apa yang sudah kita sepakati. Di beberapa perusahaan, komitmen untuk memegang etika, ‘good governance’ diperbaharui tiap semester atau tiap tahun. Tujuannya semata-mata mengingatkan karyawan agar tetap berpegang pada hal-hal yang sudah disetujuinya, sehingga karyawan ingat untuk tidak melakukan hal-hal yang melanggar apa yang sudah dia ‘komit’. Berkata tidak sebenarnya adalah membuat batas yang jelas antara apa yang kita ‘Iya’-kan dan apa yang tidak kita ingin ‘Iya’kan. Orang akan sulit menolak bila ia tidak bisa membedakan kedua hal ini dengan jelas. Sebaliknya, orang lebih berani menolak, bisa ia tahu bahwa pe-er komitmennya sudah sederet dan harus diselesaikan dahulu. Menarik ‘Keyakinan’ ke ‘Kesadaran’ Suatu ketika, seorang teman saya ragu saat ia merasa perlu menolak sebuah proposal dari rekanan yang sebenarnya sangat ia respek. Setelah beberapa saat berkutat dengan kesulitannya mengambil keputusan, akhirnya ia mengajak rekanannya berdiskusi untuk menyamakan persepsi, saling mengecek keyakinan dan mendapatkan ‘common ground’. Pada akhirnya, penolakan yang ia lakukan tidak lagi terasa berbentuk ‘penolakan’, tetapi menjadi keputusan bersama. Untuk bisa lebih mantap dalam bertransaksi atau mengambil keputusan, kita memang perlu menarik apa yang kita yakini ke kesadaran, sehingga kita bisa sangat ‘clear’ dengan keputusan kita. Keyakinan bahwa kita tidak selalu benar dan tidak selamanya merupakan sumber kebenaran juga perlu kita tanamkan dalam-dalam. Namun, sikap ini juga harus diseimbangkan dengan keyakinan bahwa kita tidak selalu salah pula. Dengan sikap yang seimbang ini kita bisa lebih berani bereksperimen dan mengambil risiko, serta lebih siap untuk menghadapi kesalahan atau sikap yang tidak menyenangkan dari pihak lain. Respek Diri Sendiri maupun orang lain Ketrampilan mengatakan tidak sebenarnya akan menjamin kesehatan mental dan merupakan suatu nilai yang membuat kita, lingkungan dan dunia kita lebih anggun dan berbudaya. Dengan tidak mengambangkan keputusan, tidak mengulur-ulur jawaban, kita sebetulnya menunjukkan respek kita ke orang lain dan otomatis meningkatkan respek kita ke diri sendiri, karena menghargai waktu dan menghayati urgensi. Respek inilah yang sering tidak kita perhitungkan dalam transaksi hubungan interpersonal. Padahal, dari respeklah kita bisa meningkatkan ‘sense of worth’, kualitas pribadi kita. Dengan merespek diri kita sendiri dan orang lain, kita bisa lebih jelas memandang masalah di antara kita dan orang lain, kita bisa lebih ‘mendengar’ dan membaca situasi, keyakinan dan kebutuhan orang lain, lebih menggali untuk memikirkan apakah akan menolak atau meng-’iya’-kan suatu tindakan. EXPERD CONSULTANTAdding value to business resultsPlaza Pondok Indah 3 Blok C/2Jl. Tb. Simatupang Jakarta 12310Telp. 021-7590 6448Fax. 021-7590 6442http://www.experd.com

Sunday, October 26, 2008

Lehman Brothers bangkrut

Dan Lehman Brothers pun Bangkrut

Setelah libur panjang usai, kita dihadapkan pada berita-berita mengkhawatirkan dari Amerika. Krisis finansial Amerika yang diawali dari kejatuhan Lehman Brothers semakin meluas dampaknya. Akankah berimbas ke Indonesia? Bisa jadi. Kondisi bisnis dan ekonomi serba tidak menentu. Tidak ada yang bisa meramalkan secara tepat dan akurat apa yang akan terjadi sekian bulan ke depan. Sebagai pekerja, apa yang bisa kita lakukan untuk mengantisipasinya? Mungkin tidak banyak. Tetapi beberapa hal berikut ini mungkin bisa disimak dan dijadikan bahan pemikiran:

  1. Krisis keuangan biasanya akan menelan banyak korban. Akan ada perusahaan-perusahaan yang tumbang. Kadang tidak pandang bulu. Tidak peduli berapapun umurnya, berapapun besarnya. Lehman Brothers yang semula begitu bergengsi dan sudah berdiri sejak tahun 1850, akhirnya jatuh dengan dramatis. Tidak ada perusahaan yang betul-betul aman dan bisa menjamin keamanan berkarir bagi karyawannya.
  2. Perusahaan yang terkena imbas krisis mungkin terpaksa harus melakukan PHK atau mungkin merumahkan karyawannya untuk sementara waktu. Mungkin sebagian, mungkin juga seluruhnya.
  3. Karyawan seperti apa yang pertama akan dikorbankan?Yang kontribusinya paling sedikit dan yang tidak menunjukkan performa kerja yang baik. Perusahaan akan menghargai dan bila memungkinkan pasti akan mempertahankan karyawan yang memiliki performa kerja yang baik dan berprestasi. Karyawan yang sudah tidak bisa menunjukkan performa kerja yang baik, tak peduli berapa tahun ia sudah bekerja, pasti akan disingkirkan terlebih dahulu. Loyalitas pada perusahaan tanpa performa kerja yang baik tidak akan ada harganya.
  4. Karyawan seperti apa yang bisa terselamatkan? a. Karyawan yang loyal pada profesi dan prestasi, yang tidak terlena dalam zona nyamannya setelah diangkat sebagai karyawan tetap. Seorang profesional yang loyal pada profesi dan prestasi kerja akan terus menerus bekerja keras sejak hari pertama kerja hingga hari terakhirnya. Ia juga senantiasa mempertajam dan memperdalam pengetahuan serta ketrampilan di bidangnya, sehingga ia tetap memiliki “daya jual” baik di perusahaan tempatnya berkarir ataupun di perusahaan lainnya. b. Karyawan yang profesional dan memiliki reputasi baik. Reputasi yang baik di dunia kerja adalah modal dasar yang sangat besar artinya. Jaringan hubungan antar manusia yang begitu kompleks kadang bentuknya tidak seperti mata rantai yang linear melainkan menyerupai jaring laba-laba. Banyak orang sebetulnya saling terhubung satu sama lain tanpa menyadarinya. Misalnya kita dikenal oleh si A karena ia kenal dengan klien kita, atau karena ia berteman baik dengan bekas rekan kerja kita di kantor sebelumnya, sehingga latar belakang dan reputasi kita menjadi sesuatu yang transparan bagi orang lain.
  5. Bagaimana bila kita sudah menjadi karyawan yang profesional, berprestasi dan memiliki reputasi baik? Ada juga yang bisa dilakukan mulai dari sekarang sebagai langkah antisipasi. Segera perluas network dan selalu dekatkan diri dengan sumber-sumber informasi tentang peluang karir. Jangan ragu untuk mencoba peluang-peluang baru yang menjanjikan, yang bisa datang dari mana saja, dari sumber yang mungkin tidak pernah Anda duga.
Jadi setelah libur panjang usai, kini saatnya Anda kembali fokus pada karir Anda. Selamat bekerja dan selamat mengejar karir impian Anda!

Friday, October 17, 2008

sense of urgency

Seorang manajer mengeluh bahwa walaupun pencapaian target bagiannya hampir selalu tercapai, ia merasa bahwa teman-teman di bagiannya kurang berinisiatif untuk mengejar target baru dan kurang kreatif dalam mencari tantangan baru. Bahkan, ada yang berkomentar mengenai dirinya sebagai orang yang tidak pernah puas dan pesimis. “Sebenarnya yang saya inginkan adalah anak buah bisa merasakan sense of urgency, sehingga mereka lebih siap dengan perubahan pasar dan realitas kompetisi. Dalam perasaan nyaman begini, mana mungkin mereka mengidentifikasi dan mendiskusikan potensi krisis sekaligus kesempatan-kesempatan besar?” Ketika pada tahun 1989 Stephen R. Covey mengentaskan konsep manajemen waktu, dalam buku 7 HABITS , yang diantaranya mengemukakan pentingnya membedakan hal yang “penting dan mendesak (urgen)” dan hal yang “penting dan tidak mendesak”, kita dibuat menyadari betapa kita harus membedakan antara apa yang ‘penting’ dan apa yang ‘urgen’. Stephen Covey mengingatkan bahwa kita seringkali hanya berkonsentrasi pada yang hal yang mendesak (urgen), yang sudah bermasalah dan harus cepat ditangani, karena sebelumnya hal-hal ini diabaikan, tidak diperhatikan karena dianggap tidak penting. Sekarang kita kurang lebih sudah lihat hasilnya : budaya mementingkan “yang penting” menjadi semakin kuat. Buktinya kata ‘penting ‘menjadi sangat popular di lingkungan pergaulan. “Ah, nggak penting….” kata seorang remaja atau “Atasan saya hanya mengurusi yang ‘tidak penting’ …” demikian ujar seorang karyawan perusahaan. Mengutamakan hal yang “penting” tentunya merupakan sikap antisipatif yang sangat positif, misalnya menyelesaikan laporan sebelum waktunya, mengecek peralatan secara rutin, melaksanakan pengawasan berkala, melakukan rapat reguler dan komunikasi efektif, sehingga kita bisa menekan munculnya masalah yang urgen. Pertanyaannya, apakah perhatian terhadap hal-hal yang penting ini juga mencakup perhatian kita terhadap terpeliharanya mental waspada dan sikap “bergegas” kita dalam bekerja ? “Sense of urgency” tidak sama dengan ‘menghadapi “urgency” ‘ Dalam dunia kerja dan bisnis sekarang, kita tentunya harus mempertanyakan kapan masih bisa menerapkan faham “alon-alon asal kelakon”. Kita bisa memilih mengatakan pada rekan kerja kita: “Ayo ini sudah bulan oktober” atau “Ini masih bulan oktober”. Kecenderungan untuk hidup ‘enak’ , menutup mata dari kabar buruk dan dorongan untuk menghindar dari kenyataan pahit, sering membuat kita menjerumuskan diri dan tim kita dalam posisi ‘nina bobo’ alias comfort zone. Keadaan ini dipersubur bila tidak ada ukuran yang obyektif mengenai kinerja dan sikap yang diinginkan, sehingga tanpa terasa individu semakin nyaman berada di daerah abu abu dan menghindari konfrontasi hitam putih. Di sebuah bank klien saya, baru-baru ini beredar sebuah slogan unik: “No business as usual”, yang agak bertentangan dengan budaya di dunia perbankan yang biasanya mengembangkan sikap konservatif, mantap dan pasti. Sentakan yang dilontarkan pimpinan perusahaan ternyata menghasilkan tingkat kewaspadaan karyawan yang lebih baik, sehingga semangat kompetisi dan memenangkan tantangan menjadi lebih kuat. Tentunya peningkatan kewaspadaan ini bisa dicapai bila organisasi tidak bosan bosannya menyiapkan sasaran-sasaran baru, meningkatkan tantangan penjualan, produktivitas maupun kepuasan pelanggan, dan berkomunikasi secara jujur dan terbuka tentang kejadian enak dan tidak enak di dalam dan di luar perusahaan. Tidak banyak “happy talk” lagi dalam meeting, namun komunikasi digantikan dengan fakta-fakta mengenai pencapaian target, kesempatan di masa depan dan keberhasilan orang luar. Kondisi inilah yang membangunkan individu agar tidak terlalu banyak berkonsentrasi pada upaya ‘menyamankan diri’ dan mendorong diri untuk bersikap waspada, dinamis dan berkeinginan untuk menyambut tantangan baru atau “urgency” yang sesungguhnya. ‘4-A’ Sense of urgency Seorang salesman saya terperangah, ketika saya tanyakan sasaran penjualan berikutnya, sesaat setelah baru saja kami sukses menutup sebuah penjualan yang ‘manis’. Mungkin dalam hatinya ia berkata “Nggak ada matinya ibu ini…”. Persoalannya, sense of urgency adalah sebuah siklus yang berpedoman : “Success motivates more success”. Siklus 4-A, yang terdiri dari Achieve – Assess – Activate dan Accelecate dimulai dari sebuah upaya pencapaian tantangan (achievement) yang bila tercapai, segera dievaluasi (assess), kemudian segera direvisi dan dihidupkan kembali (activate) untuk memulai sesuatu yang baru lagi, sambil tak lengah mendorong dan menggenjot energi (accelerate) untuk mengoptimalkan pencapaian hasil. Banyak sekali hal-hal yang bisa menyebabkan individu lengah atau “slow down”, seperti menunggu keputusan,merayakan keberhasilan, menyusun anggaran, faktor birokrasi dan proses di pihak ketiga. Di sinilah sesungguhnya kekuatan kita diuji untuk tetap bergerak, dan mengayuh enerji. Begitu kita berhasil atau “achieve” lagi, kita boleh merayakan suksesnya. Namun, kita tidak boleh terlena karena dengan segera kita pun perlu meng-“assess” dan membuat tantangan baru lagi. “Sense of urgency “ hanya bisa didapatkan oleh individu yang mau menceburkan diri ke dalam siklus yang bergerak kencang , bahkan bergoyang.Jadilah “Person in Motion”. Kita semua pasti setuju bahwa lebih mudah mengendalikan obyek yang bergerak daripada diam. Berpatokan pada hal ini, kita bisa mengadaptasi untuk lebih bersikap dinamis daripada statis. Seorang ahli menyatakan bahwa langkah pertama untuk menghidupkan “sense of urgency” adalah dengan berjalan kaki lebih cepat, sehingga kita juga mensugesti diri sendiri bahwa kita sedang bergegas. Bersikap responsif, misalnya dengan segera menjawab telpon, merespon email, voice mail, blackberry , maupun sms, serta berorientasi ‘action’ seperti ini akan mendorong individu tidak mengijinkan dirinya untuk mencari-cari alasan menunda pekerjaan. Dalam berkomunikasi, kita pun bisa membiasakan untuk tidak berbelit-belit, sehingga orang lain pun terpengaruh untuk berbicara “to the point”. Hal ini membuat kita bisa mengefisiensikan banyak waktu di dalam rapat dan pergaulan. Kita mudah sekali melihat orang lain tidak mengadaptasi “sense of urgency”, padahal kita sendiri pun barangkali mempunyai penyakit yang sama. Karenanya , bergeraklah, “Do it now!” EXPERD CONSULTANTAdding value to business resultsPlaza Pondok Indah 3 Blok C/2Jl. Tb. Simatupang Jakarta 12310Telp. 021-7590 6448Fax. 021-7590 6442http://www.experd.com

Saturday, September 27, 2008

kita memang beda

Kalau ada dua orang berhadapan, saling menatap, dan kemudian salah satu mengambil kesimpulan: ”Kita beda”, maka menurut pendapat saya, justru mereka sebetulnya sudah menemukan kesamaan. Di sinilah persepsi mengenai perbedaan dan persamaan akan terasa keindahannya, karena masing-masing individu yang berhadapan itu sudah “menemukan dirinya”, keunikannya, dan bahkan “value adding”-nya, sebagai manusia yang utuh. Itulah sebabnya kita memang perlu berbangga dengan semboyan negara kita, Bhinneka Tunggal Ika; kesamaan dalam perbedaan, yang sampai-sampai oleh DJ Romy, cucu Soekarno juga dijadikan tema album terbarunya: “Unity in diversity”.

Namun demikian, meski kita sering mengakui bahwa perbedaan itu indah, begitu sering juga kita tidak melihat perbedaan sebagai suatu kekayaan. Pikirkan betapa sering kita ‘buang muka’ bila menemukan orang yang berbeda pandangan dengan kita, bergosip di belakang orangnya, membahas mengapa dia beda, dan bahkan kemudian kita mulai melakukan manuver-manuver penyerangan seolah dia atau mereka itu musuh bebuyutan yang harus dibasmi. Di dalam rapat kita sering menemui jalan buntu sekedar karena berbeda pendapat mengenai cara pemecahan masalah atau cara meraih sasaran yang sebetulnya adalah sasaran bersama. Dalam kondisi begini, ternyata perbedaan membuat kita tidak nyaman dan bahkan membangkitkan suasana permusuhan. Alih–alih menyamakan visi dan sasaran, berbicara pun sering tidak kita upayakan, bila sudah terjebak dalam konflik yang disebabkan adanya perbedaan.

SAMA TAPI BEDA

Sikap ‘jijik’ terhadap perbedaan adalah sikap yang mutlak salah, karena dengan demikian kita lupa bahwa kesamaan bisa membuat kita justru miskin dan tidak berkembang. Kesamaan latar belakang, pendidikan, kompetensi, dan komitmen yang sering membuat lingkungan kita ‘nyaman’, terkadang justru membuat kita jadi tidak bisa menggerakkan suatu tim. Mereka yang bisa menampilkan keberbedaaannya, kemenonjolannya, dan keunikannya-lah yang kemudian malah bisa mulai memberi nilai tambah kepada tim.

Pemahaman mengenai kesamaan dan perbedaan sesungguhnya adalah dasar untuk mengolah sebuah tim yang berkekuatan besar. Tanpa menyamakan persepsi, misalnya mengenai situasi yang sedang kita hadapi, perilaku yang muncul, serta kekuatan dan kelemahan yang ada, kita tidak bisa mempunyai dasar untuk tinggal landas. Padahal, bukankah suatu situasi yang sama sering dilihat dengan pendekatan yang beda? Individu yang satu melihat detilnya, sementara yang lain melihat keseluruhannya. Ada individu yang banyak melihat, ada individu yang lebih ‘mendengar’, sementara yang lain lebih dominan perasaannya dalam mendekati suatu gejala dan fenomena. Belum lagi, pandangan dua orang yang akan berbeda total bila yang satu melihat dengan kepentingan jangka pendek, sementara yang lain melihat dengan kepentingan jangka panjang.

Penyamaan persepsi ini sebetulnya terjadi pada setiap manusia dewasa yang berniat dan mampu melihat suatu gejala secara obyektif. Tanpa kemampuan ini, individu akan mencampuradukkan keyakinan, nilai dan visinya dengan perbedaan pandangan pihak lain, sehingga individu lain dianggapnya berseberangan. Di sinilah kemudian, kelompok bisa tidak sejalan satu dengan yang lain, divisi A berkonflik dengan divisi B, partai politik berseteru satu dengan yang lain, akibat ketidakmampuan melihat kepentingan bersama, visi dan tujuan bersama yang sebetulnya sama.

MULAI DENGAN MEMOTRET DIRI SENDIRI

Ilmu “emotional intelligence” mengajarkan pada kita untuk meningkatkan ’self awareness’ kita dulu, bila kita berharap untuk mampu menguasai situasi sosial atau mempengaruhi orang lain. Ini adalah bagian dari ‘eksplorasi mental’ yang perlu kita lakukan dengan sengaja. Tanpa melakukannya, kita akan tumbuh menjadi orang yang kian picik, karena tidak bisa memanfaatkan keberbedaan yang berangkat dari analisa diri dan situasi yang obyektif. Banyak istilah seperti “test the water’, ‘feel the breeze’ yang kurang lebih artinya adalah menajamkan sensor untuk memahami diri dan situasi sekitar kita.

Cara yang paling mudah untuk ’memotret diri’ ini adalah dengan membandingkan diri kita dengan orang lain, memahami kesamaan, terutama persepsi dan pemahaman, kemudian mengidentifikasi keunikan serta keberbedaan orang lain. Hanya dengan ketajaman mental seperti ini kita bisa mengembangkan respek terhadap orang lain. Dalam proses eksplorasi mental ini, kita pasti secara otomatis ingin merasa benar, ingin membela diri dan bahkan ingin meneruskan cara-cara kita yang lama dan yang sudah ada. Hal ini sangat manusiawi karena manusia memang dibekali proses mental untuk menjaga keseimbangan jiwanya. Namun demikian, orang yang ingin memperkuat mentalnya, perlu juga melakukan ‘judging, comparing, interpreting, anticipating, rehearsing’, yang artinya mengolah input yang masuk dan mencocokkannya dengan realita, mencari kebenaran dan mengambil resiko bahwa ada kemungkinan ia harus berubah. Hanya dengan cara inilah kita sebagai manusia, berkembang menjadi manusia yang berpikiran fleksibel dan berpikiran terbuka dalam menghadapi tantangan..

BAYANGKAN KALAU KITA SAMA SEMUA

Kalau kita, di dunia ini sama semua, maka pastilah kita akan merasa seperti robot ciptaan manusia yang sudah diberi bobot emosi, seperti yang digambarkan lewat film-film science fiction yang marak sekarang. Berbedanya bakat, latar belakang, pendidikan, dan kompetensi lainnya adalah kekayaan keluarga, kelompok, bahkan Negara. Perbedaanlah yang memungkinkan kita bisa saling melengkapi kekurangan satu sama lain, hingga terciptanya sinergi. Hanya saja memang perlu diakui bahwa menonjolkan keberbedaan alias keunikan kita tidaklah mudah.

Kita tentunya tidak bisa berperilaku aneh-aneh untuk mengekspresikan keberbedaan kita. Kita pun tidak bisa berkoar-koar menonjolkannya. Kita tahu bahwa kita memang perlu mengekspresikan bahwa “saya adalah saya”, sementara “saya” ini mempunyai nilai, keyakinan, kompetensi dan sasaran sendiri. Satu-satunya jalan bersikap dewasa adalah dengan sedikit mengambil ‘jarak’ terhadap diri dan memperbolehkan diri kita sendiri atau siapa saja meninjau kembali, mengetes lagi, kompetensi, nilai, keyakinan kita. Bukankah keyakinan juga bisa salah dan nilai pun bisa usang? Untuk Negara dengan 12000 pulau dan ribuan suku bangsa yang ingin bersatu, dengan 33 partai politik peserta pemilu 2009 yang disahkan , keterbukaan inilah yang mutlak diperlukan: Bhinneka Tunggal Ika. ….Merdeka!!!

EXPERD CONSULTANT Adding value to business results Plaza Pondok Indah 3 Blok C/2 Jl. Tb. Simatupang Jakarta 12310 Telp. 021-7590 6448 Fax. 021-7590 6442 http://www.experd.com

Saturday, August 30, 2008

berjiwa pemenang

Tanpa menggunakan alat ukur yang reliabel, kita semua bisa membedakan ‘rasa’ di dalam dada kita saat melihat foto atlet Indonesia di halaman muka Kompas memamerkan medalinya dari Ajang Olimpiade, dibandingkan dengan melihat foto model koruptor yang sedang dalam proses ‘didandani’. Rasa yang ’melambung’ bila masuk dalam situasi ‘pemenang’ dan sebaliknya rasa ‘terpukul’ dalam situasi ‘pecundang’ sangat mudah kita bedakan.

Saat situasi ‘pecundang’ lebih sering kita alami, rasa pahit yang bertubi-tubi bisa tergantikan dengan rasa terpuruk, pesimis, bahkan bila tidak hati-hati bisa mengakar menjadi sikap apatis dan cuek terhadap situasi sekitar. Dalam situasi negara yang sulit begini, baik kondisi moral maupun material, mau tidak mau media massa memberitakan realita yang membuat kita sulit menepuk dada kemenangan. Lebih kecut lagi, bila kita sedang tidak beruntung, dan bertemu dengan individu berbangsa lain, yang dengan sinis membeberkan kelemahan bangsa kita, seperti kesenjangan antara kaya dan miskin, konsumerisme orang-orang berduit, lemahnya solidaritas dan korupsi yang merajalela. Menghadapi situasi ini, berat rasanya bisa ‘merasa menang’, mengangkat dagu dan tetap bersemangat pemenang. Pertanyaannya, haruskah kita merasa terpuruk terus, dan menunggu terus sampai keadaan Negara dan ekonomi lebih baik, lebih bersih dan lebih makmur?

Disadari atau tidak, sikap pecundang yang terpelihara seperti ini tentunya akan mempengaruhi kinerja kita dalam porsi yang lebih mikro, misalnya di perusahaan, dan akan mempengaruhi “fighting spirit” kita secara umum dalam bersaing bisnis dengan negara lain. Bisa-bisa kita tergiring oleh lingkaran setan dan semakin tenggelam dalam ke-’pecundang’-an dalam rasa. Vince Lombardi, seorang coach american football legendaris tahun 50-an mengumandangkan: ``Winning isn’t everything, it’s the ONLY thing”, sementara kita di sini masih sibuk dengan memenuhi pikiran dengan rasa cemas karena semangat korupsi yang tidak kunjung padam, tidak meyakini bahwa pembayaran pajak akan kembali kepada kesejahteraan rakyat, merasa sulit memprediksi sukses, bahkan menyembunyikan perasaan’kalah’ dengan bersikap jumawa. Kita semua tahu bahwa bersemangat pemenang itu positif, namun demikian kita tidak gampang memenangkannya tanpa upaya.

Pemenang yang Sehat Memperhitungkan Kekalahan

Teman saya, anak sulung harapan keluarga, selalu ‘dimenangkan’ oleh orangtuanya dan kebetulan jarang sekali menghadapi kegagalan, baik dalam pendidikan, berorganisasi dan aspek kehidupan lainnya. Keadaan menang terus-menerus ini menyebabkan ia tidak akrab dengan kekalahan. Sebagai akibat, sikapnya jadi tidak mau menghadapi kekalahan, apapun aturan dan konsekuensinya, alias “tidak mau kalah atau mengalah”. Teman kita ini memang sering menang, tetapi ia belum mempunyai “mindset” pemenang yang sebenarnya, karena ia tidak siap kalah. Orang seperti ini bahkan ada yang bisa menghalalkan segala cara demi mempertahankan posisi pemenangnya.

Orang yang berusaha menang secara obsesif semata untuk mendapatkan penghargaan, menghindari rasa malu, biasanya tidak bisa mengatur enerji, sehingga dalam situasi kalah ia tidak siap bahkan menunjukkan kemarahan. Mungkin kita masih ingat betapa petenis juara, John McEnroe, yang mengekspresikan kemarahannya dalam banyak situasi pertandingan yang bermasalah baginya, sehingga mengesankan dirinya bukan sebagai pemenang tetapi justru pecundang. Kita perlu sadari bahwa sikap pemenang tidak selalu membawa kemenangan, tetapi justru kita perlu tetap mempertahankan “mindset” pemenang dalam situasi apapun.

Menang yang sebenarnya adalah termasuk memperlihatkan komitmen, kebesaran jiwa dan penghargaan terhadap aturan, aturan main, sistem dan prosedur yang sudah dibuat. Komitmen terhadap semua konsekuensi yang perlu ditanggung, menyebabkan kita bisa berangkat ke suatu situasi dengan sensasi dan memori positif, sehingga dampak emosi positif ini berubah menjadi energi positif. Inilah mindset pemenang yang sebenarnya.

Berniat Benar, Bergerak, Bertindak

Ayah saya selalu mengingatkan, bahwa sejahat-jahatnya perbuatan seseorang, pada dasarnya manusia normal itu ingin melakukan hal-hal yang benar dan baik, bukan karena diperintahkan, tetapi memang secara natural mempunyai sikap demikian. Kenyataan ini sebenarnya cukup menjadi dasar semua keyakinan kita untuk senantiasa merasa kuat, benar dan baik, terlepas dari apakah situasi yang kita hadapi kondusif atau yang kurang menguntungkan. Namun, sikap merasa berniat benar ini saja belum cukup. Tengoklah betapa banyak orang, penulis, kritikus, politikus, ahli-ahli yang betul-betul merasa benar, namun tidak menyambung perasaan ini dengan komitmen untuk berusaha, berubah, bertindak, mengubah kebiasaan diri, orang lain dan membangun sukses. Sebuah kalimat bijak mengatakan: “Winners actually SEE their success BEFORE it happens”, tetapi melihat saja tidak cukup. Untuk menang atau mempunyai jiwa pemenang kita harus bergerak, bertindak, dan “masuk” ke lapangan, bukan menjadi penonton saja.

Semangat Pemenang Perlu Dipelihara

Dalam penutup email dan smsnya, seorang teman sering menuliskan kata penyemangat pada rekan-rekan kerjanya. Semula saya sendiri kikuk menerimanya, tetapi lama-kelamaan timbul emosi positif dan semangat menularkannya juga ke orang lain. Tanpa kita sadari kata-kata bisa sangat “powerful” untuk membangkitkan mindset pemenang, karenanya perlu dipilih secara hati hati.

Kita juga perlu memelihara semangat pemenang ini dengan berlatih berada di bawah tekanan. Target penjualan yang ditingkatkan terus, tingkat kesulitan pekerjaan yang ditambah, berjuang untuk jabatan yang lebih tinggi, adalah upaya untuk membiasakan diri menguatkan mental dan mempertebal kepercayaan diri untuk menghadapi kesulitan yang tidak kunjung berhenti.

Hal yang juga senantiasa perlu ditemukan individu dalam kehidupan berkarya adalah perasaan bangga atas hasil kerjanya, di mana seorang tukang sapu harus sama bangganya atas hasil sapuannya seperti Michelangelo bangga terhadap hasil sapuan kuasnya.

Sunday, August 3, 2008

Hati-Hati Dengan Bahaya Plastik

Resin identification code atau RIC dimana kode ini lah yang dipake untuk menentukan type dari bahan plastik supaya nantinya bahan tersebut bisa dipilah untuk di daur-ulang.
PETE or PET Polyethylene terephthalate PETE atau PET (polyethylene terephthalate) biasa dipakai untuk botol plastik yang jernih/transparan/ tembus pandang seperti botol air mineral, botol jus, dan hampir semua botol minuman lainnya. Boto-botol dengan bahan #1 dan #2 direkomendasikan hanya untuk sekali pakai. Jangan pakai untuk air hangat apalagi panas. Buang botol yang sudah lama atau terlihat baret-baret.
HDPE = High density polyethylene HDPE (high density polyethylene) biasa dipakai untuk botol susu yang berwarna putih susu. Sama seperti #1 PET, #2 juga direkomendasikan hanya untuk sekali pemakaian.
PVC or V Polyvinyl chloride V atau PVC (polyvinyl chloride) adalah plastik yang paling sulit di daur ulang. Plastik ini bisa ditemukan pada plastik pembungkus (cling wrap), dan botol-botol. Kandungan dari PVC yaitu DEHA yang terdapat pada plastik pembungkus dapat bocor dan masuk ke makanan berminyak bila dipanaskan. PVC berpotensi berbahaya untuk ginjal, hati dan berat badan.
LDPE = Low density polyethylene LDPE (low density polyethylene) biasa dipakai untuk tempat makanan dan botol-botol yang lembek. Barang-barang dengan kode #4 dapat di daur ulang dan baik untuk barang-barang yang memerlukan fleksibilitas tetapi kuat. Barang dengan #4 bisa dibilang tidak dapat di hancurkan tetapi tetap baik untuk tempat makanan.
PP = Polypropylene PP (polypropylene) adalah pilihan terbaik untuk bahan plastik terutama untuk yang berhubungan dengan makanan dan minuman seperti tempat menyimpan makanan, botol minum dan terpenting botol minum untuk bayi. Karakteristik adalah biasa botol transparan yang tidak jernih atau berawan. Cari simbol ini bila membeli barang berbahan plastik.
PS = Polystyrene PS (polystyrene) biasa dipakai sebagai bahan tempat makan styrofoam, tempat minum sekali pakai, dll. Bahan Polystyrene bisa membocorkan bahan styrine ke dalam makanan ketika makanan tersebut bersentuhan. Bahan Styrine berbahaya untuk otak dan sistem syaraf. Selain tempat makanan, styrine juga bisa didapatkan dari asap rokok, asap kendaraan dan bahan konstruksi gedung. Bahan ini harus dihindari dan banyak negara bagian di Amerika sudah melarang pemakaian tempat makanan berbahan styrofoam termasuk negara China.
OTHER acrylonitrile butadiene styrene acrylic, polycarbonate, polylactic acid, nylon,fiberglass. Other (biasanya polycarbonate) bisa didapatkan di tempat makanan dan minuman seperti botol minum olahraga. Polycarbonate bisa mengeluarkan bahan utamanya yaitu Bisphenol-A ke dalam makanan dan minuman yang berpotensi merusak sistem hormon. Hindari bahan plastik Polycarbonate.
Untuk itu selalu teliti saat membeli barang plastik · Baca dan ikutin aturan pemakaian dengan benar · Cuci, sterilkan dan simpan barang plastik anda di tempat aman (teduh, bebas debu, tidak lembab dan kalo bisa tertutup) · Ganti peralatan pastik secara berkala (misalnya: peralatan makan, botol, dot, dsb) Semoga informasi ini bermanfaat bagi kita semua. beberapa link yg harus dibaca : · Hati-Hati dengan Bahaya Plastik! Pelajari Sebelum Terlambat· Polycarbonate Plastics and Bisphenol A Release· Baby Alert: New Findings About Plastics Feeding with the Bottle