Sunday, April 22, 2007

logo almamater

logo almamater

Saturday, April 21, 2007

5 bola

Di awal tahun ajaran baru, di suatu universitas di USA, CEO Coca Cola,Brian Dyson, berbicara mengenai hubungan antara pekerjaan dankewajiban (komitmen) hidup yang lain."Bayangkan hidup sebagai suatu permainan ketangkasan dimana kita harusmemainkan keseimbangan 5 buah bola yang dilempar ke udara. Bola-bolatersebut bernama : Pekerjaan, Keluarga, Kesehatan, Teman dan Spiritdan kita harus menjaga agar ke-5 bola ini seimbang di udara.Kita akan segera mengerti bahwa ternyata "Pekerjaan" hanyalah sebuahbola karet. Jika kita menjatuhkannya maka ia akan dapat memantul kembali.Tetapi empat bola lainnya Keluarga, Kesehatan, Teman dan Spiritterbuat dari gelas.Dan jika kita menjatuhkan salah satunya maka ia akan dapat terluka,tertandai, tergores, rusak atau bahkan hancur berkeping-keping. Daningatlah mereka tidak akan pernah kembali seperti aslinya.Kita harus memahaminya benar dan berusaha keras untuk menyeimbangkannya.Bagaimana caranya ?Jangan rusak nilai kita dengan membandingkannya dengan nilai orang lain.Perbedaan yang ada diciptakan untuk membuat masing-masing diri kita special.Jangan tetapkan tujuan dan sasaran Kita dengan mengacu pada apa yangorang lain anggap itu penting. Hanya Kita yang mengerti dan dapatmerasa"apa yang terbaik untuk kita".Jangan mengganggap remeh sesuatu yang dekat di hati kita, melekatlahpadanya seakan-akan ia adalah bagian yang membuat kita hidup, dimanatanpanya, hidup menjadi kurang berarti.Jangan biarkan hidup kita terpuruk dengan hidup di 'masa lampau' ataudalam mimpi masa depan. Satu hari hidup pada suatu waktu berarti hidupuntuk seluruh waktu hidupmu.Jangan menyerah ketika masih ada sesuatu yang dapat kita berikan.Tidak ada yang benar-benar kalah sampai kita berhenti berusaha.Jangan takut mengakui bahwa diri kita tidaklah sempurna.Ketidaksempurnaan inilah yang merupakan sulaman benang rapuh untukmengikat kita satu sama lain.Jangan takut menghadapi resiko. Anggaplah resiko sebagai kesempatankita untuk belajar bagaimana menjadi berani.Jangan berusaha untuk mengunci Cinta memasuki hidupmu dengan berkata :"tidak mungkin saya temukan".Cara tercepat untuk mendapatkan cinta adalah dengan memberinya, caratercepat untuk kehilangan cinta adalah dengan menggenggamnya sekencangmungkin, dan cara terbaik untuk menjaga agar cinta tetap tumbuh adalahdengan memberinya "sayap".Janganlah berlari, meskipun hidup tampak sangat cepat, sehingga kitalupa dari mana kita berasal dan juga lupa sedang menuju kemana kita.Jangan lupa bahwa kebutuhan emosi terbesar dari seseorang adalahkebutuhan untuk merasa dihargai.Jangan takut untuk belajar sesuatu. Ilmu Pengetahuan adalah hartakarun yang selalu dapat Kita bawa kemanapun tanpa membebani.Jangan gunakan waktu dan kata-kata dengan sembrono. Karena keduanyatidak mungkin kita ulang kembali jika telah lewat.Hidup bukanlah pacuan melainkan suatu perjalanan dimana setiap tahapsepanjang jalannya harus dinikmati. Dan akhirnya resapilah :MASA LALU adalah SEJARAH, MASA DEPAN merupakan Misteri dan SAAT INIadalah KARUNIA. Itulah kenapa dalam bahasa inggris saat ini disebut"The Present".

Friday, April 13, 2007

nokia 6600

 
nokia 6600 imaging smartphone



Real people. Real questions. Real answers. Share what you know.

Monday, April 9, 2007

kelompok 99

  • Kelompok 99
  • Apakah Anda termasuk anggota Kelompok 99?
  • Mari dengar suatu kisah terlebih dahulu dan baru Anda bisa menjawabnya.

Zaman dahulu kala, hiduplah seorang Raja. Raja ini seharusnya puas dengan kehidupannya, dengan segala harta benda dan kemewahan yang ia miliki. Tapi Raja ini tidak seperti itu. Sang Raja selalu bertanya-tanya mengapa ia tidak pernah puas dengan kehidupannya. Tentu saja, ia memiliki perhatian semua orang kemana pun ia pergi, menghadiri jamuan makan malam dan pesta yang mewah, tetapi, ia tetapi merasa ada sesuatu yang kurang dan ia tidak tahu apa sebabnya. Suatu hari, sang Raja bangun lebih pagi dari biasanya dan memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar istananya. Sang Raja masuk ke dalam ruang tamunya yang luas dan berhenti ketika ia mendengarkan seseorang bernyanyi dengan riang... dan perhatiannya tertuju kepada salah satu pembantunya...yang bersenandung gembira dan wajahnya memancarkan sukacita serta kepuasan. Hal ini menarik perhatian sang Raja dan ia pun memanggil si hamba masuk ke dalam ruangannya. Pria ini, si hamba, masuk ke dalam ruangan sang Raja seperti yang telah diperintahkan. Lalu sang Raja bertanya mengapa si hamba begitu riang gembira. Kemudian, si hamba menjawab, " Yang Mulia, diri saya tidaklah lebih dari seorang hamba, namun apa yang saya peroleh cukup untuk menyenangkan istri dan anak-anak saya. Kami tidak memerlukan banyak, sebuah atap di atas kepala kami dan makanan yang hangat untuk mengisi perut kami. Istri dan anak-anak saya adalah sumber inspirasi saya, mereka puas dengan apa yang bisa saya sediakan walaupun sedikit. Saya bersuka cita karena mereka bersukacita." Mendengar hal tersebut, sang Raja menyuruh si hamba keluar dan kemudian memanggil asisten pribadinya masuk ke dalam ruangan.Sang Raja berusaha mengkaji perasaan pribadinya dan mengkaitkan dengan kisah yang baru saja didengarnya, berharap dirinya dapat menemukan suatu alasan mengapa ia seharusnya dapat merasa puas dengan apa yang dapat diperoleh dengan sekejap tetapi tidak, sedangkan hambanya hanya memperoleh sedikit harta tetapi memiliki rasa kepuasan yang besar. Dengan penuh perhatian, sang asisten pribadi mendengarkan ucapan sang Raja dan kemudian menarik kesimpulan. Ujarnya, " Yang Mulia, saya percaya si hamba itu belum menjadi bagian dari kelompok 99." "Kelompok 99? Apakah itu?" tanya sang Raja. Kemudian, sang asisten pribadi menjawab, " Yang Mulia, untuk mengetahui apa itu Kelompok 99, Yang Mulia harus melakukan hal ini... letakkan 99 koin emas dalam sebuah kantung dan tinggalkan kantung tersebut di depan rumah si hamba, setelah itu Yang Mulia akan mengerti apa itu Kelompok 99." Sore harinya, sang Raja mengatur agar si hamba memperoleh kantung yang berisi 99 koin emas di depan rumahnya. Walaupun ada sedikit keraguan muncul, dan sang Raja ingin memberikan 100 koin emas, namun ia menuruti nasihat si asisten pribadi dan tetapi meletakkan 99 koin emas. Esok harinya, ketika si hamba baru saja hendak melangkahkan kakinya keluar rumah, matanya melihat sebuah kantung. Bertanya-tanya dalam hatinya, ia membawa kantung itu masuk ke dalam dan membukanya. Ketika melihat begitubanyak koin emas di dalamnya, ia langsung berteriak girang. Koin emas...begitu banyak! Hampir ia tidak percaya. Kemudian ia memanggil istri dan anak-anaknya keluar memperlihatkan temuannya. Si hamba meletakkan kantung tersebut di atas meja, mengeluarkan seluruh isinya dan mulai menghitung.Hanya 99 koin emas, dan ia pun merasa aneh. Dihitungnya kembali, terus menerus dan tetap saja, hanya 99 koin emas. Si hamba mulai bertanya-tanya,kemanakah koin yang satu lagi? Tidak mungkin seseorang hanya meninggalkan 99 koin emas. Ia pun mulai menggeledah seluruh rumahnya, mencari koin yang terakhir. Setelah ia merasa letih dan putus asa, ia memutuskan untuk bekerja lebih keras lagi untuk menggantikan 1 koin itu agar jumlahnya genap 100 koin emas. Keesokan harinya, ia bangun dengan suasana hati yang benar-benar tidak enak, berteriak-teriak kepada istri dan anak-anaknya, tidak menyadari bahwa ia telah menghabiskan malam sebelumnya dengan bekerja keras agar ia mampu membeli 1 koin emas. Si hamba bekerja seperti biasa, tetapi tidak dengan suasana hati yang riang, bersiul-siul seperti biasanya. Dan si hamba pun tidak menyadari bahwa sang Raja memperhatikan dirinya ketika ia melakukan pekerjaan hariannya dengan bersungut-sungut.Sang Raja bingung melihat sikap si hamba yang berubah begitu drastis, lalu memanggil asisten pribadinya masuk ke dalam ruangan. Diceritakan apa yang telah dilihatnya dan si asisten pribadinya tetap mendengarkan dengan penuh perhatian. Sang Raja bertanya, bukankah seharusnya si hamba itu lebih riang karena ia telah memiliki koin emas.Jawab si asisten,"Ah.. tetapi, Yang Mulia, sekarang hamba itu secara resmi telah masuk ke dalam Kelompok 99." Lanjutnya, "Kelompok 99 itu hanyalah sebuah nama yang diberikan kepada orang-orang yang telah memiliki semuanya tetapi tidak pernah merasa puas, dan mereka terus bekerja keras mencoba mencari 1 koin emas yang terakhir agar genap 100 koin emas. Kita harusnya merasa bersyukur dengan apa yang ada, dan kita bisa hidup dengan sedikit yang kita miliki. Tetapi ketika kita diberikan yang lebih baik dan lebih banyak, kita menghendaki lebih! Tidak menjadi orang yang sama lagi, yang puas dengan apa yang ada, tetapi kita terus menghendaki lebih dan lebih dan memiliki keinginan seperti itu kita membayar harga yang tidak kita pun sadari. Kehilangan waktu tidur, kebahagiaan, dan menyakiti orang-orang yang berada di sekitar kita hanya untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan kita sendiri. Orang-orang seperti itulah yang tergabung dalam Kelompok 99!" Mendengar hal itu, sang Raja memutuskan bahwa untuk selanjutnya, ia akan mulai menghargai hal-hal yang kecil dalam hidup. Berusaha untuk memiliki lebih itu bagus, tetapi jangan berusaha terlalu keras sehingga kita kehilangan orang-orang yang dekat dengan kita, jangan pernah menukar kebahagiaan dengan kemewahan..........

" Di mana hartamu, disitu hatimu berada .. "

Sunday, April 8, 2007

reunian

Reuni di moka...uda lama banget...tapi gpp buat tes...

Saturday, April 7, 2007

sepenggal kisah dari seorang ibu

  • Dari pinggir kaca nako, di antara celah kain gorden, saya melihat lelaki itu mondar-mandir di depan rumah. Matanya berkali-kali melihat ke rumah saya.Tangannya yang dimasukkan ke saku celana, sesekali mengelap keringat di keningnya. Dada saya berdebar menyaksikannya. Apa maksud remaja yang bisa jadi umurnya tak jauh dengan anak sulung saya yang baru kelas 2 SMU itu?
  • Melihat tingkah lakunya yang gelisah, tidakkah dia punya maksud buruk dengan keluarga saya? Mau merampok? Bukankah sekarang ini orang merampok tidak lagi mengenal waktu? Siang hari saat orang-orang lalu-lalang pun penodong bisa beraksi, seperti yang banyak diberitakan koran. Atau dia punya masalah dengan Yudi, anak saya?
  • Kenakalan remaja saat ini tidak lagi enteng. Tawuran telah menjadikan puluhan remaja meninggal. Saya berdoa semoga lamunan itu salah semua. Tapi mengingat peristiwa buruk itu bisa saja terjadi, saya mengunci seluruh pintu dan jendela rumah. Di rumah ini, pukul sepuluh pagi seperti ini,saya hanya seorang diri.
  • Kang Yayan, suami saya, ke kantor. Yudi sekolah, Yuni yang sekolah sore pergi les Inggris, dan Bi Nia sudah seminggu tidak masuk. Jadi kalau lelaki yang selalu memperhatikan rumah saya itu menodong, saya bisa apa? Pintu pagar rumah memang terbuka. Siapa saja bisa masuk. Tapi mengapa anak muda itu tidak juga masuk?
  • Tidakkah dia menunggu sampai tidak ada orang yang memergoki? Saya sedikit lega saat anak muda itu berdiri di samping tiang telepon. Saya punya pikiran lain. Mungkin dia sedang menunggu seseorang, pacarnya, temannya, adiknya, atau siapa saja yang janjian untuk bertemu di tiang telepon itu. Saya memang tidak mesti berburuk sangka seperti tadi. Tapi dizaman ini, dengan peristiwa-peristiwa buruk, tenggang rasa yang semakin menghilang, tidakkah rasa curiga lebih baik daripada lengah?
  • Saya masih tidak beranjak dari persembunyian, di antara kain gorden, di samping kaca nako. Saya masih was-was karena anak muda itu sesekali masih melihat ke rumah. Apa maksudnya? Ah, bukankah banyak pertanyaan di dunia ini yang tidak ada jawabannya. Terlintas di pikiran saya untuk menelepon tetangga. Tapi saya takut jadi ramai. Bisa-bisa penduduk se-kompleks mendatangi anak muda itu. Iya kalau anak itu ditanya-tanya secara baik, coba kalau belum apa-apa ada yang memukul.
  • Tiba-tiba anak muda itu membalikkan badan dan masuk ke halaman rumah. Debaran jantung saya mengencang kembali. Saya memang mengidap penyakit jantung. Tekad saya untuk menelepon tetangga sudah bulat, tapi kaki saya tidak bisa melangkah. Apalagi begitu anak muda itu mendekat, saya ingat, saya pernah melihatnya dan punya pengalaman buruk dengannya. Tapi anak muda itu tidak lama di teras rumah. Dia hanya memasukkan sesuatu ke celah di atas pintu dan bergegas pergi. Saya masih belum bisa mengambil benda itu karena kaki saya masih lemas.
  • * * * Saya pernah melihat anak muda yang gelisah itu di jembatan penyeberangan, entah seminggu atau dua minggu yang lalu. Saya pulang membeli bumbu kue waktu itu. Tiba-tiba di atas jembatan penyeberangan, saya ada yang menabrak, saya hampir jatuh. Si penabrak yang tidak lain adalah anak muda yang gelisah dan mondar-mandir di depan rumah itu, meminta maaf dan bergegas mendahului saya.
  • Saya jengkel, apalagi begitu sampai di rumah saya tahu dompet yang disimpan di kantong plastik, disatukan dengan bumbu kue, telah raib. Dan hari ini, lelaki yang gelisah dan si penabrak yang mencopet itu, mengembalikan dompet saya lewat celah di atas pintu. Setelah saya periksa, uang tiga ratus ribu lebih, cincin emas yang selalu saya simpan di dompet bila bepergian, dan surat-surat penting, tidak ada yang berkurang. Lama saya melihat dompet itu dan melamun.
  • Seperti dalam dongeng. Seorang anak muda yang gelisah, yang siapa pun saya pikir akan mencurigainya, dalam situasi perekonomian yang morat-marit seperti ini, mengembalikan uang yang telah digenggamnya. Bukankah itu ajaib,seperti dalam dongeng. Atau hidup ini memang tak lebih dari sebuah dongengan? Bersama dompet yang dimasukkan ke kantong plastik hitam itu saya menemukan surat yang dilipat tidak rapi. Saya baca surat yang berhari-hari kemudian tidak lepas dari pikiran dan hati saya itu.
  • Isinya seperti ini: "Ibu yang baik, maafkan saya telah mengambil dompet Ibu. Tadinya saya mau mengembalikan dompet Ibu saja, tapi saya tidak punya tempat untuk mengadu, maka saya tulis surat ini, semoga Ibu mau membacanya. Sudah tiga bulan saya berhenti sekolah. Bapak saya di-PHK dan tidak mampu membayar uang SPP yang berbulan-bulan sudah nunggak, membeli alat-alat sekolah dan memberi ongkos. Karena kemampuan keluarga yang minim itu saya berpikir tidak apa-apa saya sekolah sampai kelas 2 STM saja. Tapi yang membuat saya sakit hati, Bapak kemudian sering mabuk dan judi buntut yang beredar sembunyi-sembunyi itu.
  • Adik saya yang tiga orang, semuanya keluar sekolah. Emak berjualan goreng-gorengan yang dititipkan di warung-warung. Adik-adik saya membantu mengantarkannya. Saya berjualan koran, membantu-bantu untuk beli beras. Saya sadar, kalau keadaan seperti ini, saya harus berjuang lebih keras. Saya mau melakukannya. Dari pagi sampai malam saya bekerja. Tidak saja jualan koran, saya juga membantu nyuci piring di warung nasi dan kadang (sambil hiburan) saya ngamen.
  • Tapi uang yang pas-pasan itu (Emak sering gagal belajar menabung dan saya maklum), masih juga diminta Bapak untuk memasang judi kupon gelap. Bilangnya nanti juga diganti kalau angka tebakannya tepat. Selama ini belum pernah tebakan Bapak tepat. Lagi pula Emak yang taat beribadah itu tidak akan mau menerima uang dari hasil judi, saya yakin itu. Ketika Bapak semakin sering meminta uang kepada Emak, kadang sambil marah-marah dan memukul, saya tidak kuat untuk diam.
  • Saya mengusir Bapak. Dan begitu Bapak memukul, saya membalasnya sampai Bapak terjatuh-jatuh. Emak memarahi saya sebagai anak laknat. Saya sakit hati. Saya bingung. Mesti bagaimana saya? Saat Emak sakit dan Bapak semakin menjadi dengan judi buntutnya, sakit hati saya semakin menggumpal, tapi saya tidak tahu sakit hati oleh siapa. Hanya untuk membawa Emak ke dokter saja saya tidak sanggup. Bapak yang semakin sering tidur entah di mana, tidak perduli.
  • Hampir saya memukulnya lagi. Di jalan, saat saya jualan koran, saya sering merasa punya dendam yang besar tapi tidak tahu dendam oleh siapa dan karena apa. Emak tidak bisa ke dokter. Tapi orang lain bisa dengan mobil mewah melenggang begitu saja di depan saya, sesekali bertelepon dengan handphone. Dan di seberang stopan itu, di warung jajan bertingkat, orang-orang mengeluarkan ratusan ribu untuk sekali makan. Maka tekad saya, Emak harus ke dokter.
  • Karena dari jualan koran tidak cukup, saya merencanakan untuk mencopet. Berhari-hari saya mengikuti buskota, tapi saya tidak pernah berani menggerayangi saku orang. Keringat dingin malah membasahi baju. Saya gagal jadi pencopet. Dan begitu saya melihat orang-orang belanja di toko, saya melihat Ibu memasukkan dompet ke kantong plastik. Maka saya ikuti Ibu. Di atas jembatan penyeberangan, saya pura-pura menabrak Ibu dan cepat mengambil dompet. Saya gembira ketika mendapatkan uang 300 ribu lebih. Saya segera mendatangi Emak dan mengajaknya ke dokter. Tapi Ibu, Emak malah menatap saya tajam. Dia menanyakan, dari mana saya dapat uang.
  • Saya sebenarnya ingin mengatakan bahwa itu tabungan saya, atau meminjam dari teman. Tapi saya tidak bisa berbohong. Saya mengatakan sejujurnya, Emak mengalihkan pandangannya begitu saya selesai bercerita. Di pipi keriputnya mengalir butir-butir air. Emak menangis. Ibu, tidak pernah saya merasakan kebingungan seperti ini. Saya ingin berteriak. Sekeras-kerasnya. Sepuas-puasnya.
  • Dengan uang 300 ribu lebih sebenarnya saya bisa makan-makan, mabuk, hura-hura. Tidak apa saya jadi pencuri. Tidak perduli dengan Ibu, dengan orang-orang yang kehilangan. Karena orang-orang pun tidak perduli kepada saya. Tapi saya tidak bisa melakukannya. Saya harus mengembalikan dompet Ibu. Maaf." Surat tanpa tanda tangan itu berulang kali saya baca. Berhari-hari saya mencari-cari anak muda yang bingung dan gelisah itu. Di setiap stopan tempat puluhan anak-anak berdagang dan mengamen. Dalam bus-bus kota. Di taman-taman. Tapi anak muda itu tidak pernah kelihatan lagi. Siapapun yang berada di stopan, tidak mengenal anak muda itu ketika saya menanyakannya.Lelah mencari, di bawah pohon rindang, saya membaca dan membaca lagi surat dari pencopet itu. Surat sederhana itu membuat saya tidak tenang.
  • Ada sesuatu yang mempengaruhi pikiran dan perasaan saya. Saya tidak lagi silau dengan segala kemewahan. Ketika Kang Yayan membawa hadiah-hadiah istimewa sepulang kunjungannya ke luar kota, saya tidak segembira biasanya.Saya malah mengusulkan oleh-oleh yang biasa saja. Kang Yayan dan kedua anak saya mungkin aneh dengan sikap saya akhir-akhir ini. Tapi mau bagaimana, hati saya tidak bisa lagi menikmati kemewahan. Tidak ada lagi keinginan saya untuk makan di tempat-tempat yang harganya ratusan ribu sekali makan, baju-baju merk terkenal seharga jutaan, dan sebagainya.
  • Saya menolaknya meski Kang Yayan bilang tidak apa sekali-sekali. Saat saya ulang tahun, Kang Yayan menawarkan untuk merayakan di mana saja. Tapi saya ingin memasak di rumah, membuat makanan, dengan tangan saya sendiri. Dan siangnya, dengan dibantu Bi Nia,lebih seratus bungkus nasi saya bikin. Diantar Kang Yayan dan kedua anak saya, nasi-nasi bungkus dibagikan kepada para pengemis, para pedagang asongan dan pengamen yang banyak di setiap stopan. Di stopan terakhir yang kami kunjungi, saya mengajak Kang Yayan dan kedua anak saya untuk makan bersama. Diam-diam air mata mengalir dimata saya. Yuni menghampiri saya dan bilang, "Mama, saya bangga jadi anak Mama." Dan saya ingin menjadi Mama bagi ribuan anak-anak lainnya

owner

owner dari blog free_a_g
tapi yang ini bukan subyek dari cerpen doa untuk aji

Friday, April 6, 2007

doa untuk aji

Doa untuk Aji Cerpen Oleh Rinahastuti
Foto pernikahan tertempel di dinding ruang tengah. Ukuran bingkai 10 R itu nampak menunjukkan kegembiraan di wajah Aji. Ia menemukan jodohnya satu tahun sebelum pernikahan itu berlangsung. Ya dalam gambar Aji dan Susan adalah pasangan yang serasi. Postur yang tinggi besar sesuai badan SusanDi dinding tidak hanya foto pernikahan Aji, dua kakak perempuannya, Wita dan Feni juga berada di sana. Foto pernikahan anak-anak sengaja aku tempatkan di dinding yang sama, supaya bila aku rindu pada mereka aku dapat mernandanginya satu persatu dengan detail.Tetapi satu minggu terakhir ini, aku lebih memperhatikan foto pernikahan Aji daripada dua anak perempuanku yang lain. Yah, aku melihat foto pernikahan itu merupakan pernikahan yang agung. Pakaian adat Jawa yang mereka kenakanpas di badan yang biasa disebut dengan basahan itu menujukkan betapa khidmat dan agungnya prosesi pernikahan itu berlangsung. Mereka berdua nampak anggun dengan pakaian kebesaran keratin. Aku melihat foto pernikahan lagi. Ya, semuanya sempurna, saat pernikahan itu berlangsung dua tahun yang lalu. Namun semua itu telah berbalik. Perasaanku sebagai ibu melihat kejanggalan yang terjadi pada Aji.
Beberapa hari yang lalu anak lelakiku itu pulang dengan wajah murung."Bagaimana kabar Susan dan si kecil Safira. Ibu kangen pada mereka, seharusnya kau membawa serta mereka," kataku. Aji mendesah pelan. "Orang tua Susan menyarankan si kecil tidak terlalu sering bermain di luar. Takut kalau-kalau Safira jatuh sakit karena kena angin dalam perjalanan."Oh ya? Mengapa begitu. Bukankah aku dan suamiku juga kakek dan neneknya, kami juga diserang rasa rindu pada cucu kami. Sementara Aji ini memang Aji yang masih menumpang di rumah mertuanya. Mereka tinggal bersama di sana, dan belum memiliki rumah sendiri. Besanku itu seharusnya mengetahui kerinduan kami pada cucu. Bukankah mereka selama ini selalu bersama Safira? Apa salahnya sesekali atau sebulan sekali Safira gantian bersamaku.Mungkin benar dugaan kami, orang tua Susan memang terlihat ketidaksukaannya pada keluarga kami. Awalnya hanya tidak suka pada Aji. Semua ini karena ketidakmampuan Aji mencukupi ekonomi rumah tangga yang dibinanya. Ketidaksukaan itu akhirnya sampai juga pada kami sekeluarga. Mereka tampak sekali kurang menghargai saya atau suami saya. Banyak hal terlihat perasaan itu, seperti saat Susan tinggal di rumah kami, orang tua Susan selalu saja dengan nelepon berkali-kali dan meminta untuk pulang dengan alasan rumahnya sepi. Apalagi kini, kehadiran Safira semakin mempertajam keburukan itu pada kami. Mereka tidak ingin Safira datang ke rumah. Ada saja alasan yang dikemukakan supaya Safira tidak diajak bertandang ke rumah. Mungkin bagi mereka Safira adalah cucu pertama sehingga ada perasaan untuk memilikinya lebih kuat. Sementara bagi kami kedua kakak Aji sudah memberi masing-masing dua dan tiga anak, sehingga menurut mereka Safira bukan cucu yang istimewa. Padahal tidak demikian,aku menganggap sama semua cucu-cucu kami. Seperti cucu kami yang lain, aku merasa bila lama tak bertemu dengan Safira ada perasaan rindu yang sangat dalam."Lho, kan terakhir ke sini tiga bulan yang lalu. Ibu kangen pada Fira. Pasti lagi lucu-lucunya, " ujarku, aku minta pada Aji untuk membawa serta Fira bila datang ke sini lagi."Waktu ulang tahun pertama dirayakan ya?""Ya! Kakeknya yang minta sebagai tanda syukur. Tapi sekadar pesta anak-anak.
Hanya mengundang anak-anak tetangga di sekitar rumahnya."Aku melihat wajah Aji yang terlihat murung, Padahal sebelum menikah ia adalah pemuda yang enjoy dengan segala kegiatannya. Ia juga disukai masyarakat di sekitar kami karena ia pintar bergaul dan dapat menghimpun masyarakat di sini. Itulah sebabnya ia selalu senang. Ya, lingkungannya selalu menerimanya dengan baik. Tapi beberapa waktu setelah menikah perubahan itu sedikit demi sedikit kian nampak. Ia tidak pernah terbuka padaku. Tidak seperti orang lain yang kuketahui, ia tidak menceritakan betapa senang memiliki anak usia satu tahun. Padahal dua anakku yang lain Wita dan Feni selalu menceritakan perkembangan anak-anaknya dari waktu ke waktu satu demi satu, Perasaanku sebagai seorang ibu tentu tak nyaman melihat kondisi Aji seperti itu. Ada beban yang berat yang tengah bergelayut di fikirannya.Sesaat ia merebahkan badannya di kasur yang terhampar di ruang tengah yang biasa kami gunakan untuk menonton TV. Ia tentu ingin sedikit rileks, bukankah ini di rumahnya sendiri. Hal ini tentu sangat sulit dilakukan di rumah mertua. Sudah pasti ia serba canggung."Ibu buatkan wedang jahe hangat ya...?" kataku menawarkan minuman kesukaannya."Ya..., boleh," jawabnya sambil mengganti-ganti chanel TV dari remote control yang dipegangnya.
Aku bergegas membuatkan wedang jahe panas. Tinggal menuangkan satu bungkus jahe instan, kemudian diseduh dengan ditambah sedikit gula, sudah jadi."Ini," kataku sambil mengulurkan cangkir padanya, Aji pun mengubah posisinya jadi duduk. Dan menerima cangkir dari tanganku.Aku lalu mengambil tempat duduk tidak jauh darinya.“Ji, ibu ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi dengan dirimu. Boleh dong...?" tanyaku santai membuka pembicaraan serius itu."Tentang apa, Bu?" Aji justru balik bertanya padaku."Akh kau. Ya tentang rumah tanggamu. Ibu melihat begitu banyak beban berat yang tengah kau sandang, Perasaan ibu mengatakan ada masalah yang sedang engkau hadapi, anakku. Itu kalau ibu boleh tahu..." kataku pelan-pelan. Tentu saja dengan memberi sedikit senyum padanya.Sifat Aji lebih tertutup dibanding anak-anakku yang lain. Kali ini aku tak ingin membiarkannya menanggung beratnya beban seorang diri.
Dan sepertinya Aji sudah cukup berat menahannya."Kalau ibu tidak boleh tahu, ya apa boleh buat. Kalau kamu tidak bercerita tentu saja ibu hanya menebak-nebak saja," kataku lagi setelah menunggu Aji tidak juga menjawab pertanyaanku.Aji menatapku tajam. "Ibu pasti lebih tahu masalah-masalah rumah tangga. Aji baru menikah dua tahun yang lalu, sementara ibu sudah hampir tiga puluh lima tahun mengarungi rumah tangga."Aku tersenyum mendengar tutur katanya. Ada kesempatan untuk mengetahui saat ia mau membuka pembicaraannya, "Tetapi kalau kau tidak menceritakan semuanya itu, ibu tidak akan pernah tahu."Ia menarik nafas panjang. Beban berat itu masih terlihat jelas. "Saya sebenarnya tidak ingin tinggal di rumah orang tua Susan seperti sekarang ini. Banyak faktor yang mengurangi ketidakleluasaan saya sebagai kepala rumah tangga. Ayah Susan mengatur banyak hal mengenai urusan rumah tangga saya dan Susan. Yah, contoh sederhana saja, masalah Safira. Mereka sayang sama Fira. Banyak materi yang mereka limpahkan pada Fira.""Apa salahnya bila kakek dan neneknya memberikan benda-benda pada cucunya. Malah sebaliknya harusnya kau senang," kataku malah membela mertua Aji.
Aji mendengus. "Ibu..., kalau itu dilakukan hanya sekali dua kali tidak masalah bagi saya. Katakanlah sebagai hadiah, misalnya. Tapi kalau berlebih tentu saja saya tidak suka. Yang saya inginkan biarlah Fira memakai pakaian dan segala kebutuhan sesuai dengan kemampuan orang tuanya."Aku mendengarkan semuanya dengan tekun. “Jadi kau tersinggung? ""Tentu saja, Mereka selalu menganggap saya, sebagai suami dan ayah yang tidak mampu membelikan kebutuhan istri dan anak," nada suara Aji semakin meninggi. Ia terbawa emosi."Kau harus bersabar," pintaku, memang tidak mudah menyatukan diri dari dua latar belakang yang berbeda. "Bagaimana sikap Susan?""Hal ini juga yang membuat Susan meremehkan kemampuan saya.
Dua tahun usia pernikahan kami, bukannya membuat Susan menghargai saya. Semakin hari semakin menurun penghargaan Susan terhadap saya," ujarnya pelan. Seakan-akan dia mengatakan bahwa masalah ini seharusnya menjadi rahasia rumah tangga.Aku terkejut mendengarnya, kucoba untuk bersikap tenang. Namun aku meminta Aji untuk selalu mengalah, Bukankah selama ini Susan selalu terbiasa hidup enak dan segala yang diinginkannya selalu dipenuhi oleh ayahnya, "Hidup penuh cobaan. Pelan-pelan kau beritahu Susan masalah-masalahmu itu. Mintalah bantuannya untuk menghadapi semua ini. Bicarakan baik-baik pemecahan yang mungkin dilakukan. Misalnya kalian mengontrak rumah, supaya bebanmu berkurang.""Sebenarnya Susan setuju, tapi lagi-lagi ayahnya tidak,""Pelan-pelan kau beritahu istrimu,
Bukankah kalian saling mencintai. Mintalah pengertiannya. "Aji hanya mengangguk-anggukkan kepala.Aku yakin masalah yang sedang melandanya bukan masalah itu saja. Ia hanya menceritakan sedikit dari masalah sesungguhnya yang tengah dihadapinya.Suara azan magrib membangunkanku dari tempat duduk untuk segera mengambil air wudhu. "Ibu sholat magrib dulu."Namun usai sholat magrib Aji sudah berpamitan untuk pulang ke rumah Susan. "Saya sudah bilang pada Susan akan pulang setelah magrib."Tengah malam aku terbangun dari tidur. Fikiranku kini kembali melayang pada masalah Aji.
Rasanya sulit sekali untuk memejamkan mataku lagi. Sementara suamiku masih terbuai dalam tidurnya yang sangat lelap.Akh, susah sekali mata ini terkatup. Aku rasa akan lebih baik bila aku mengambil air wudhu dan sholat tahajud. Aku akan merasa lebih tenang daripada tidur dalam kegelisahan.Aku pun turun dan berwudhu. Aku menghadap pada Tuhan untuk meminta pertolonganNya. Sungguh tiada tempat yang tepat untuk meminta dan bermunajat selain pada Tuhan. Kegelisahanku kali ini benar-benar untuk anakku. Aku menyayangi Aji, aku tak ingin melihat ketidak bahagiaan Aji dalam rumah tangganya.
Aku memohon pada Tuhan untuk memberi kebahagiaan pada anakku. Bukankah Tuhan telah menyatukan mereka dalam ikatan pernikahan yang sah? Itulah sebabnya, biarkan mereka selalu dalam kebahagiaan. Aku memohon Tuhan memberi petunjuk pada mereka, sehingga Aji dapat kebahagiaannya lagi. Doa demi doa aku mohonkan untuk anakku.Sejak saat itu, aku tak pernah melewatkan tengah malamku tanpa sholat tahajut. Aku yakin Tuhan akan mendengar doa orang bersungguh-sungguh, Aku ingin Aji selalu dalam keadaan bahagia seperti aku dan suamiku. Aku ingin Susan bisa memahami kondisi Aji tanpa terus menerus mencelanya. Aku benar-benar khawatir hal ini berdampak lebih jauh seperti perceraian atau depresi berat yang harus diterima Aji. Tidak! Aku'tidak menginginkan semuanya itu untuk Aji. Dalam doaku seringkali tanpa terasa tiba-tiba air mataku mengalir. Sebagai ibu tak ada yang lebih berharga daripada kebahagiaan untuk anak-anaknya.
Setiap kali Aji datang aku selalu menasihatinya dengan hati-hati. Aku meminta padanya untuk sabar menghadapi cobaan yang tengah melanda dirinya.Begitulah yang selalu aku lakukan. Doaku tak pernah putus."Bu, Susan akhirnya mau untuk mengontrak rumah sendiri," kata Aji suatu ketika saat datang ke rumah bersama Susan dan Fira. Oh, tentu saja ini menjadi berita gembira buatku.“Ya, kami bertekad memulai dari bawah, Bu," kata Susan yang duduk memangku Fira. "Mungkin ini lebih baik dengan mengawali dari titik terendah. Yah, selama ini ayah saya meminta saya untuk tinggal dan menemaninya.
Tapi saya kira sudah cukup lama kami tinggal bersama dan itu dapat berakibat tidak baik bagi kami di kemudian hari."Oh, syukurlah. Aku bahagia mendengar anak dan menantuku memutuskan mengawali rumah tangganya secara sempurna. Mandiri sebagaimana rumah tangga umumnya, meskipun aku yakin masih banyak kekurangan yang akan mereka hadapi nantinya.Doaku pada Tuhan ternyata tak sia-sia. Tuhan mendengar semua doa dan keluh kesahku. Tuhan telah membukakan hati anak dan menantuku untuk menempuh kehidupan rumah tangga yang baik. Sujud syukur pun segera aku lakukan pada Tuhan.
(Ingati bila Sunyi, Rindui bila Jauh, Fahami bila Keliru, Nasehati bila Lalai dan Maafkan bila Terluka. Alangkah Indahnya ukhuwah bila sgalanya karena Allah SWT)

setelah cinta pergi

Setelah Cinta Pergi Cerpen Oleh Laila Hilaliyah Rintik hujan yang turun sejak subuh masih belum berhenti. Dengan berlari-lari kecil kusambut loper koran yang tengah berdiri di pintu pagar. "Terima kasih ya," ucapku. Dan buru-buru masuk ke dalam."Mas, teh manis," kataku seraya meletakkan koran pagi ini di meja. "Ya sebentar," jawab mas Kosim, suamiku, dari kamar.Sambil menunggu suamiku turun, aku membuka halaman koran. Kutangkap berita duka dari seorang token sebuah Ormas Islam terbesar di Indonesia, Di halaman tiga itu terpampang foto yang cukup jelas terlihat disertai profit singkatnya. Dengan hati berdebar kencang kubaca untaian kalimat headlinenya."Salad seorang tokoh Ormas Islam dan aktivis parpol terkemuka, H. Zaini, meninggal dunia rnalam kemaren. Almarhum akan dimakamkan di daerafiasalnya, Facet Majalaya, siang ini. Nampak para tokoh dan aktivis Ormas Islam se Jawa Barat Wflielayat ke rumah duka..."Dari nama dan fotonya aku tidak mungkin salah, Ya! Aku pasti mengenal dia. Tiba-tiba tubuhku terasa lunglai. Mataku berkaca-kaca namun lekas kususut ketika terdengar suara langkah suamiku.Mas Kosim segera menyambar koran. Ia tampak membaca sekilas-sekilas saja."Diminum dulu tehnya, keburu dingin," kataku pelan. Mas Kosim meneguk teh. Matanya tak lepas dari bacaan rutin paginya. Dan berita duka itu pun tak luput dari pengamatannya."Oya, Ma, sehabis dari kampus aku tidak langsung pulang," katanya tiba-tiba, agak mengejutkanku."Siang nanti aku mau menghadiri pemakaman sesepuh Ormas di Bandung. Tadi malam aku mendapat SMS dari kantor cabang. Beliau inilah orangnya," lanjutnya kemudian. Mas Kosim menunjukkan foto tokoh yang dimaksud, pada halaman koran di hadapannya.Aku hanya mengangguk. Di tengah kesibukarmya mengajar di kampus, suamiku pun aktif dalam kegiatan Ormas Islam. Ah, ternyata ia mengenal tokoh tersebut."Ya, pergilah, Mas," sahutku dengan suara Aku terpaku menatap foto di surat kabar tersebut. Beberapa saat kubaca berita duka itu selengkapnya. Aku terhenyak. Menurut tulisan dalam profilnya, ternyata H. Zaini hidup menduda, hanya ditemani ketiga putrinya sampai akhir hayatnya.Aku menghela nafas berat. Air mataku tak mampu lagi kubendung."Haji Zaini, Papa...kini kau telah pergi menghadap llahi, Inna lillahi wa inna ilaihi mjiun . . .' desisku, tak sadar menyebut sebuah nama.Sebuah nama yang tidak asing lagi bagiku. Seseoang yang pernah singgah, mengukir kenangan, beberapa tahun lalu."Papa, papa... Maafkan aku, telah meninggalkan dirimu. Membenamkanmu dalam kesepian yang panjang," teriakku dalam hati. Rasa bersalah membebani rongga dada. Penyesalan bertumpuk memenuhi jiwa."Apa yang harus kukatakan, setelah semua yang kulakukan padamu? Ingin rasanya aku berlari untuk menatap jasadmu dan bersimpuh di hadapanmu. Aku ingin mengembalikan kebahagiaan yang pernah kau berikan padaku. Karena aku bukanlah orang yang pantas menerima ketulusanmu. .." Aku terisak sendiri.Tentu, tidak banyak yang tahu tentang sepenggal perjalanan cintanya bersamaku... Perlahan-lahan bayangan sosok dan wajahnya menjelma dalam kenangan silam. Aku pun terhanyut dalam lamunan panjang bersamanya."Kenapa lama?" Tanya Pak Haji Zaini, yang biasa kupanggil papa, latengah berdiri gelisah di depan pertokoan kecil."Macet. Lagi pula jarak Uber-Gerlong kan nggak dekat, Pa." Jawabku sambil membenahi jilbabku yang agak berantakan kena angin. Papa tersenyum memandangiku."Ya sudah. Yuk! Kita berangkat," ajaknya bersemangat.Papa memang selalu menungguku di belokan jalan itu untuk bersama-sama berjalan menuju masjid Telkorn di kawasan Gegerkalong, Bandung."Hati ini Papa ngisi cermah di mana?" tanyaku."Ahad ini kebetulan tidak ada jadwal. Jadi mustami' saja. Dan kita punya waktu panjang," katanya sumringah.Dalam hati aku senang bukan main. Biasanya, kebersamaanku dengannya hanya sampai pukul sebelas. Karena selepas zuhur, ia harus memberi materi di masjid yang berbeda. Tak jarang, aku pun ikut nadir dalam berbagai kegiatan ceramahnya. Tapi kali ini aku bias berbincang-bincang lebih lama dengan dia. Rasa kangenku terasa membuncah setelah sepekan tidak bertemu.Tampaknya ceramah sudah berlangsung beberapa menit. Ruang masjid sudah dipenuhi jemaah. Kami duduk di pelataran gedung serba guna yang menghadap tapangan luas, tepat di depan masjid. Di sepanjang pinggirnya ditumbuhi pohon akasia yang rimbun.Suara ustaz Aam Amirudin menggema dari masjid. Bersama jamaah yang lain aku berusaha mendengarkan dengan seksama.Aku biasa menghabiskan akhir pekan bersama papa dalam kegiatan pengajian dari masjid ke masjid. Papa membina sejumlah jamaah pengajian di kota Bandung melalui lembaga tempatnya berkecimpung. Dari komunitas ini kami pertama kali bertemu.Aku mengenalnya sebagai sosok yang simpatik. Berpenampilan rapi dengan balutan jas batik. Peci hitam dan kaca mata plusnya senantiasa dikenakan saat memberi ceramah di depan jamaah pengajian.Sesekali diam-diam kupandangi lelaki yang duduk tertunduk di depanku. Jantungku berdebar halus tatkala kami beradu pandang. Lalu kami pun saling melempar senyum.Dua jam tak terasa berlalu. Ustaz Aam mengakhiri cermahnya dengan sebait doa dan salam. Jamaah mulai berhamburan keluar masjid. Sebagian langsung pulang. Sebagian lagi masin duduk-duduk di pinggir lapangan."Jangan beranjak dulu, Nad, masih berdesakan/' pintanyamelihata kubersiaphendak berdiri. Aku pun duduk kembali di sampingnya,"Ada sesuatu yang ingin kusampaikan padamu.""Apa itu?""Tahun depan insya Allah aku akan membawamu berangkat ibadah haji," sahutnya dengan nada kalem."Apa? Papa mau mengajakku ibadah haji?" tanyaku kaget bercampur gembira."Insya Allah. Doakansaja.""Berarti kita harus rnuhrim terlebih dulu. Apakah Papa akan... ?" Aku tak berani meneruskan pertanyaan itu. Aku takut dianggap lancang. Kutatap wajahnya yang tampak berbinar-binar."Tentu. Aku akan mengurus semua keperluan kita sampai beres. Kau tak perlu memikirkan apa-apa," katanya, membuatku seakan sudah berada di tanah suci bersama suamiku. Ah, anganku melambung tinggi. Aku sangat bahagia.Entah kenapa aku begitu mencintainya. Aku merasakan debar-debar indah itu semakin kerap menyelinap dalam kalbu. Dan aku selalu ingin berlama-lama memandangi raut wajah simpatik itu. Padahal ia bukan lagi pria muda yang sebaya denganku. Usianya hamper empatpuluh lima, dengan status duda yang memiliki tiga anak perempuan yang menginjak dewasa. Sedangkan aku, gadis yang masih belia. Namun hal itu tidak membuatku merasa risih dan malu. Bukankah cinta tidak memandang usia?"Nadia, terkadang aku merasa tidak yakin dengan perasaanmu padaku. Tapi melihat kesungguhanmu, aku sangat berterimakasih, kau telah mencintai dan menyayangiku, " ungkapnya pada suatu kesempatan, seusai memberi ceramah di masjid Istiqomah."Sekarang aku yakin, aku akan memilihirm dan mempercayakan perasaan cintaku. Selama berumah tangga aku tidak pernah merasakan cinta yang sebenarnya. Aku hanya menuruti kehendak orang tua semata," tuturnya dengan suara dalam."Tahukah kau, Nad?" Baru kali ini aku merasakan getar cinta dan kerinduan padamu," katanya sambil menatapku lembut. Membuat pipiku terasa merona. Betapa bahagianya hatiku mendengar ungkapan tulusnya."Maukah kau menjadi istriku?" Aku hanya mengangguk sambil tersipu malu."Aku takkan pernah mengkhianatimu. Akan setia selamanya seumur hidupku...," janjinya sunguh-sungguh."Kapan mau datang menghadap orang tuaku?" tanyaku. Sejenak ia terdiam. Aku pun bersabar menunggu kalimat yang akan meluncur berikutnya. Dan, aku sudah siap jika ia akan memperistriku secepatnya."Kau sendiri kapan bersedia menerima kedatanganku? " tanyanya kembali."Lusa, besok pun aku siap," tantangku mantap. Tawanya pun meledak seketika."Betul?""Papa tidak percaya?""Kurasa kau perlu menyiapkan mental terlebih dulu untuk menjadi istri seorang aktivis ormas sepertiku. Aku akan sering meninggalkanmu karena harus menghadiri acara atau mengurus kepentingan organisasi atau partai," sahutnya."Tidak apa-apa. Asalkan papa tetap setia dan selalu mencintaiku, " kataku tersenyum manis. Ya, aku sangat mencintai dan mengaguminya. Aku ingin memberikan seluruh cinta yang tak pernah ia peroleh selama ini. la tampak begitu bahagia dapat mencintaiku.Di luar kapasitasnya, ia tetap seorang lelaki biasa yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang seseorang.Begitulah. Kami lalui hari-hari dengan menghadiri kegiatan pengajian. Berdiskusi tentang masa depan, mengupas masalah yang tengah hangat dalam perpolitikan negeri ini. Atau sering pula sekadar ngobrol santai sambil makan roti bakar dan kacang rebus favorit kami.Sampai suatu hari aku mengalami peristiwa yang tidak pernah aku duga. Ahad siang itu, setepas menghadiri pengajian, aku bermaksud membeli keperluan kuliah di sebuah plaza.Kumasuki plaza yang biasa kudatangi bersama papa. Kali ini aku datano, sendiri karena papa sedang ada urusan dengan ormasnya di Tasikmalaya. Selesai membayar di kasir, aku langsung menuruni eskalator.Tanpa sengaja mataku memandang ke arah barisan orang-orang yang sedang menaiki eskalator. Nampak lelaki yang selama ini dekat denganku tengah berjalan dengan seorang wanita.Di sebelah kanan dan kirinya bergelayut manja tiga gadis yang sebaya denganku."Papa...," bisikku."Sedang apa di sini? Bersama siapa?" tanyaku dalam hati. Aku berusaha memperhatikan mereka lebih jelas lagi. Gadis-gadis yang bergandengan tangan itu mirip sekali dengan papa. Juga mirip dengan wanita yang berjalan bersma mereka. Gadis-gadis itu seolah perpaduan antara papa dan mamanya.Aku mengikuti mereka dari kej'auhan. Mereka berjalan beriringan. Tampak mesra dan harmonis sekali."Pasti papa bersama anak perempuan dan mamanya...," bisik hatiku kecut. Kurasa aku cemburu. Hatiku panas dibuatnya. Mungkinkah mereka akan bersatu kembali? Ah, perasaanku tak karuan. Api cemburu berkobar-kobar membakar dada.Sudah jelas semuanya bagiku. Aku berlari keluar plaza itu dengan berurai air mata. Duh! Betapa sakitnya hatiku.Lalu berhari-hari aku mengurung diri dalam kamar. Menangis dan mempertanyakan mengapa dia tidak setia pada cinta. Berkali-kali telepon darinya tak kujawab. Juga panggilan ponsel dan SMS nya tidak kupedulikan. Ya, ya, tentu saja anak-anaknya yang sedang remaja itu lebih memerlukan perhatian dan kasih sayang kedua orang tuanya.Dua minggu berikutnya aku memutuskan untuk mengakhiri segala hubungan dengannya."Papa, rasanya kita tidak bias meneruskan hubungan ini. Sebelum semuanya terlambat lebih baik kita selesaikan sampai di sini," kataku, mengajukan perpisahan."Ada apa, Nad? Tiba-tiba bicara begitu." Ia tampak terkejut."Jangan pura-pura. Papa akan kembali pada keluarga papa, kan?" tandasku."Ada apa, sayang? Ceritakan padaku." la berusaha menenangkan diriku. "Ahad itu aku melihat papa bersama anak dan mantan istri papa sedang berjalan di plaza. Memang sudah seharusnya papa memperbaiki hubungan dengan mereka..." Aku tak mampu lagi menyem bunyikan kesedihanku."Nad, Nad, tunggu dulu. Dengarkan aku. Itu hanya kebetulan. Ibunya sedang ada urusan di sini. Lalu anakku mengajak kami ke plaza itu untuk membeli keperluannya. Apa aku salah?" tuturnya menjelaskan."Tidak! Papa tidak salah. Kembalilah pada mereka," kataku dengan nada dingin."Nadia, antara aku dan ibunya tidak ada perasaan apa-apa. Aku tidak tidak dapat menerima keputusanmu. ""Terserah. Pokoknya aku tidak mau lagi bertemu papa. Hubungan kita sudah berakhir," kataku terengah-engah menahan amarah. Tangisku pun tersendat."Nad, tidak bisakah kau memberiku kesempatan untuk membuktikan ucapanku?""Tidak ada yang perlu dibuktikan. Semuanya sudah jelas terbukti. Jadi, jangan temui aku lagi," teriakku diiringi isaktangis dan air mata yang terasa makin deras."Baik, baik. Aku hormati keputusanmu. Tapi satu hal yang harus kau camkan. Aku tak akan pernah menitipkan perasaanku pada siapa pun," sahutnya bijak. Ia selalu bersikap arif tatkala menghadapi sikap kekanak-kanakanlku yang setiap saat bisa muncul.Tapi sungguh! Aku ingin segalanya cepat berlalu. Aku ingin melupakannya.Enam bulan kemudian aku menikah dengan mas Kosim, laki-laki yang dikenalkan ayah padaku. Aku pun diboyong ke rumah baru dan mulai hidup berkeluarga di kota hujan, Bogor Sejak menikah dengan mas Kosim, hanay sekali saja aku bertemu dengan Pak Haji Zaini. Ia hadir sebagai mubalig inti dalam acara milad organisasinya di kota Bogor. Mas Kosim memintaku untuk mendampinginya dalam acara itu.Pertemuan yang tak pernah kusangka itu pun masih menyisakan perasaan kagumku yang begitu besar opadanya. Sosok simpatik itu masih tetap seperti dulu. Balutan jas batik, kacamata plus dan peci hitamnya menjadi asesoris yang tak pernah terlupakan. Seakan menambah daya karismatik dirinya.Ketika ia berdiri di atas mimbar mulai mengucapkan salam mukaddimahnya, aku bagai terpesona oleh wajah dan suara yang pernah lekat di hatiku. Ah, betapa lama aku tidak melihat sosoknya. Di antara ratusan hadirin, aku duduk tenang menyimak ceramahnya selama satu jam.Aku tak menduga kalau ternyata ia masih mengenalku. Saat acara ramah tamah dan makan siang, ia menyempatkan diri menyapaku."Kau Nadia, bukan?" tanyanya santun sambil tersenyum ramah. Aku mengangguk dan membalas senyumnya."Dan Kosim itu suamimu, kan?" tanyanya lagi. Aku menoleh ke arah suamiku yang tengah berbincang dengan rekan-rekannya dari berbagai daerah."Ya, betul," jawabku singkat."Bagaimana kabar keluarga Pak Haji?" tanyaku penuh diplomasi. Aku tidak ingin mengingat masa lalu."Baik, alhamdulillah. ""Nadia, kau sudah banyak berubah sekarang. Kau tampak jauh lebih dewasa," ujarnya seraya memandangku. Ah, pandangan itu serasa menyimpan rindu. Dan, aku pun masih merasakan debar-debar halus saat menatapnya."Terima kasih. Mungkin karena aku sudah memiliki kehidupan yang berbeda," kataku tanpa bermaksud membuatnya tak enak hati.Ia tersenyum penuh arif. Dan, senyum itu sempat mengobati rasa sakit hatiku.Aku berpamitan dan menghampiri suamiku yang kelihatan sedang mencariku.Setelah cinta pergi yang tertinggal hanya serpihan memori yang tak kunjung beranjak dari hati. Meski janji itu tak pernah terpenuhi, cinta tak pernah melukai. Hujan semakin deras membasahi bumi. Turut menghantarkan kepergian seseorang ke pembaringan terakhirnya. Dedaunan tampak berjatuhan dari tangkai pohon akasia di depan rumahku. Begitu pun air mataku berjatuhan, berderai membasahi pipi."Selamat jalan, Papa. Semoga kau bahagia di Haribaan llahi," sejumput doa kubisikkan untuknya.Pukul sembilan malam, mas Kosim baru pulang."Maaf Ma, kau lama menungguku," katanya."Sudah selesai pemakamannya, Mas?""Ba'da asyar beliau baru dimakamkan. Menunggu anggota ormas dari daerah yang ingin menghadiri pemakamannya. Beliau seorang yang loyal dan mengabdikan seluruh hidupnya untuk perjuangan organisasi dan partai. Sudah tentu banyak kalangan yang merasa kehilangan," ujar mas Kosim.Air mataku tak terasa menetes di pipi. Hatiku luruh mendengar penuturan suamiku."Ada apa, Ma? Kau menangis?" Mas Kosim memeluk diriku dengan cemas. Aku hanya terdiam."Kau marah padaku? Kau pasti merasa kesal, Ma. Aku sering meninggalkanmu sendirian untuk urusan organisasi. Maafkan aku, Ma," ucap suamiku. Ia meraih wajahku dan mengecup sayang keningku."Aku tidak apa-apa, Mas." Kususupkan wajahku ke dadanya.Ah, aku tak sanggup menceritakan semua yang kurasakan saat ini pada suamiku. Namun, aku berjanji suatu hari nanti pasti akan kuceritakan sepenggal kisah lalu itu. Yathie (Ingati bila Sunyi, Rindui bila Jauh, Fahami bila Keliru, Nasehati bila Lalai dan Maafkan bila Terluka. Alangkah Indahnya ukhuwah bila sgalanya karena Allah SWT)

ada apa pa ?

Ada Apa Pa? Ada Apa Wanda? Oleh Sopian Hadistiara Cerpen
Wanda merasakan ada sesuatu yang lain dengan perilaku papanya. Sebab sikap sang papa yang biasanya periang, akhir-akhir ini sering melamun dan menjadi lebih pendiam. Sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu. Bahkan ketika papanya itu memasuki rumah - saat pulang dari kantor - suara lantang memanggil-manggil Wanda tidak pernah terdengar lagi."Mungkinkah papa sedang menghadapi masalah dengan pekerjaannya di kantor?" kata hatinya."Papa punya masalah ya, dengan pekerjaan di kantor?" tanyanya suatu ketika mengagetkan orangtua itu yang tengah duduk tak bergairah di sofa ruang tengah."Oh anu! Iya," jawab papanya terbata-bata. ; "Iya apa, Pa?""lya, Papa sedang banyak masalah di kantor," ujarnya sambil memaksakan diri untuk tersenyum."Mungkin sebaiknya Papa cuti kerja aja dulu," saran Wanda."Tidak Wanda. Justru kalau....""Kalau apa, Pa?" potong Wanda penasaran."Nggak apa-apa. Pasti masalah pekerjaan di kantor bisa papa selesaikan. Percaya deh, sama papa, ya!" katanya sambil terus tersenyum.Jawaban-jawaban papanya ternyata tidak membuat gadis cilik berusia empat belasan itu merasa puas. Tapi justru mengundang berbagai pertanyaan di dalam hatinya. Bahkan Wanda merasa, papanya seperti telah berbohong. Entah karena kebohongan itu terlihat oleh Wanda dari sorot mata papanya, dari cara menjawabnya, atau mungkin karena kekuatan perasaan batin seorang anak. Namun demikian, Wanda tidak segera menunjukan ketidakpuasannya itu.Hari berganti hari ternyata tidak membuat lelaki tersebut terlepas dari kebiasaannya yang sering melamun. Wanda yang diam-diam terus memperhatikan keganjilan tingkahlaku lelaki itu, semakin merasa iba melihatnya.Untuk ketiga kalinya Wanda mendapat jawaban yang sama ketika ia bertanya mengenai sikap dan perilaku papanya. Wanda semakin yakin, bahwa papanya berbohong."Mungkinkah papa kesepian, karena sudah hampir dua tahun mama meninggal. Jadi papa..., mungkinkah… Tapi…" Wanda terus bertanya-tanya dalam hatinya hingga ia sendiri merasa cemas. Cemas apabila yang dialami papanya ternyata memang seperti yang dipikirkannya itu.Karena Wanda pun semakin merasa iba melihal papanya yang suka murung dan terkadang menyendiri, ia akhirnya mencoba mengungkapkan pertanyaan yang mengganjal di hatinya."Papa jangan berbohong terus deh, sama Wanda. Ada apa sih sebenarnya, hingga sudah seminggu ini papa sering terlihat murung dan melamun?" desaknya. "Papa kesepian, ya?""Ah tidak!" jawab papanya seperti tersentak."Sudah deh, Pa? Jangan ngebohongin Wanda terus. Kata papa kita tidak boleh berbohong. Dosa!" tegas Wanda. Sementara itu papanya terlihat menarik napas panjang seperti merasakan suatu beban."Benar kok, papa nggak apa-apa. Hanya masalah pekerjaan di kantor," kilahnya datar.Wanda tetap tidak percaya ucapan papanya. Ia terus mendesak dengan perkataan yang sempat membuat orangtua itu terkejut."Papa pasti kesepian ya setelah ditinggal mama. Papa juga pasti butuh perhatian ya...mungkin papa....""Mungkin apa?" tanya papanya penasaran."Mungkin perlu ada yang ngurusin papa.""Maksud Wanda?" ujar lelaki itu seperti berpura-pura tidak mengerti. Sedangkan Wanda melihat adanya perasaan senang yang terpancar dari sorot mata papanya."Wanda nggak keberatan, kok, jika Wanda punya mama baru," pancing Wanda, Mendengar ucapan Wanda seperti itu, kontan saja sang papa terlihat begitu bersemangat menanggapinya."Apa Wanda rela jika papa menikah lagi dan Wanda punya mama tiri," katanya dengan pancaran mata berbinar penuh harap memandangi wajah Wanda. Wanda pun menangkap pancaran itu dan ia semakin tergugah untuk segera mengiyakannya. Meskipun sebenarnya, jauh dilubuk hatinya, Wanda merasa belum siap menerima wanita yang akan menggantikan peran mama kandungnya."Wanda rela, kok, Pa?" ucapnya pelan."Syukurlah kalau memang begitu. Sebenarnya papa sudah punya calon yang akan menjadi mamamu. Namun papa belum berani mengenalkannya padamu. Ia wanita yang baik, dan papa yakin ia pun dapat memberimu kasih sayang. Tapi karena sekarang Wanda.... Nanti papa kenalkan deh. Sebab sudah lama calon mamamu itu ingin mengenal Wanda," jelasnya dengan penuh gairah.Sebulan kemudian, Wanda menerima kenyataan bahwa kini ia telah mempunyai mama baru. Awalnya ia cukup senang dengan kehadiran wanita tersebut. Namun tak lama kemudian, kehadiran Restu, mama tirinya itu, menimbulkan perasaan lain di hati Wanda. Nampaknya anak gadis itu cemburu. Ia merasa papanya kini lebih memperhatikan wanita tersebut daripada dirinya. Akibatnya, Wanda sering teringat mama kandungnya yang telah tiada dan larut dalam lamunan dan kesedihan."Ma...Wanda kangen sama mama. Kenapa mama cepat-cepat ninggalin Wanda. Ma, Wanda kangen sama mama...," ujar Wanda dengan suara tersedu-sedu sambil memandangi potret mamanya yang terpampang di dinding kamarnya. Setetes demi setetes air mata membasahi pipi gadis cilik nan cantik ini.Rasa cemburu pada mama tirinya dan rasa kesal pada papanya membuat Wanda bingung apa yang harus dia perbuat. Tapi ia tidak berani mengungkapkan perasaan tersebut pada mereka termasuk pada papanya. Wanda menyadari, keberadaan Restu di tengah-tengah keluarga itu juga karena tawarannya. Selain itu ia pun tidak ingin papanya tersinggung.Wanda hanya bisa memendam perasaannya, sehingga batinnya tersiksa. Akibatnya tak jarang ia mengekspresikan perasaannya itu dengan sikap yang dapat menimbulkan kejengkelan dan kemarahan bagi siapa pun yang tidak mampu bersikap bijaksana dalam menghadapinya. Untungnya, Restu dapat dikatakan termasuk wanita yang cukup bijaksana, sehingga tidak terlalu sulit baginya menghadapi sikap-sikap Wanda tadi. Dia menyadari, jika dirinya mencintai papanya Wanda dan bersedia menjadi istrinya, maka sudah menjadi kewajibannya untuk menganggap dan memperlakukan Wanda seperti anaknya sendiri."Ada apa sayang? Apa ada yang salah dengan sikap mama selama ini? Katakanlah, mama nggak bakal marah, kok," sapa Restu sambil membelai rambut anak perempuan yang tengah cemberut itu.Meskipun berulangkali Restu bertanya, Wanda tetap bungkam. Bahkan terkadang ketus dalam menanggapinya. Namun sebagai seorang ibu yang penuh perhatian, akhirnya Restu dapat memahami apa yang dirasakan Wanda. Dia merasa kasihan melihat Wanda yang terombang ambing dengan perasaannya."Pa? Sepertinya Wanda belum sepenuhnya menerima kehadiran mama di sini. Memang, awalnya sih, mama melihat Wanda mencoba untuk dapat menerima kehadiran mama. Namun kini dia tidak bisa melawan perasaannya sendiri," jelas Restu. "Wanda cemburu, Pa. Mama yakin itu. Mungkin karena kasih sayang dan perhatian papa kini harus terbagi sama mama," lanjutnya."Sebenarnya papa juga sempat melihat adanya keanehan dengan sikap Wanda akhir-akhir ini. Kasihan anak itu," ujar suaminya."Demi kebaikan Wanda, untuk sementara waktu sebaiknya mama tinggal dulu sama orangtua di Bogor. Toh, Jakarta-Bogor tidak terlalu jauh, bisa terjangkau kalau ada apa-apa. Mama tidak ingin kehadiran mama di sini hanya akan membuat batin Wanda terus tersiksa."Walaupun lelaki itu menerima alasan istrinya, ia tetap bermaksud menanyakannya pada Wanda. Berkali-kali ia bertanya pada Wanda, namun anak itu tetap diam seribu bahasa. Bahkan ia lebih memilih bergegas ke kamarnya dan mengunci diri. Lelaki itu merasa kebingungan dengan sikap anaknya hingga akhirnya ia menyetujui usul istrinya.Benar. Setelah Restu meninggalkan rumah tersebut, wajah Wanda tidak lagi terlihat cemberut dan mengunci diri di kamar. Namun keadaan ini tidak berlangsung lama. Ketika papanya kian sibuk dengan pekerjaan kantornya dan beberapa harus diselesaikan di rumah, bahkan tak jarang pula harus diselesaikan di luar kota, membuat Wanda kembali kesepian. Bi Minah, pembantu di rumah itu, berusaha menghiburnya, namun tidak mecairkan rasa kesepian Wanda. Begitu pula dengan kehadiran kakek-neneknya yang pada waktu-waktu tertentu datang mengunjunginya.Larutnya Wanda dalam perasaannya itu membuat dirinya tiba-tiba sering teringat pada perhatian dan kasih sayang Restu. Dia teringat ciuman mama tirinya itu pada pipi dan keningnya saat akan pergi sekolah dan menjelang mau tidur. Wanda pun tak lupa dengan kesabaran wanita tersebut ketika sikapnya sering menjengkelkan. Sepertinya kini Wanda merindukan Restu, mama tirinya itu.Suatu hari Wanda memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya pada sang papa, Ia mencoba menghampiri papanya yang tengah sibuk mempersiapkan diri untuk kembali ke luar kota selama beberapa hari untuk tugas kantornya. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti. Wanda teringat dengan sikapnya pada hari-hari terakhir menjelang kepergian Restu. Ia yakin, papanya pun tahu bahwa karena dirinyalah mama tirinya itu terpaksa mengalah sehingga ia pergi dari rumah itu.Cukup lama Wanda berdiri mematung. Ia merasa malu dengan sikap-sikapnya selama ini. Namun Wanda mencoba untuk meneruskan langkahnya walaupun kebimbangan menggelayuti hatinya. Padahal jarak untuk sampai ke papanya yang tengah duduk dan sibuk memasukan berkas-berkas ke dalam kopernya, hanya tinggal tiga atau empat langkah lagi."Papa...! Wanda kangen sama mama Restu!" katanya setengah berteriak. Papanya langsung terperanjat, kemudian menoleh ke belakang, ke arah anaknya."Wanda kangen sama Restu," sambungnya dengan suara melemah. Papanya kemudian tersenyum lalu menghampiri Wanda dan memeluknya.
Bogor, 16 0ktober 2004
Ingati bila Sunyi, Rindui bila Jauh, Fahami bila Keliru, Nasehati bila Lalai dan Maafkan bila Terluka. Alangkah Indahnya ukhuwah bila sgalanya karena Allah SWT