Friday, April 6, 2007

doa untuk aji

Doa untuk Aji Cerpen Oleh Rinahastuti
Foto pernikahan tertempel di dinding ruang tengah. Ukuran bingkai 10 R itu nampak menunjukkan kegembiraan di wajah Aji. Ia menemukan jodohnya satu tahun sebelum pernikahan itu berlangsung. Ya dalam gambar Aji dan Susan adalah pasangan yang serasi. Postur yang tinggi besar sesuai badan SusanDi dinding tidak hanya foto pernikahan Aji, dua kakak perempuannya, Wita dan Feni juga berada di sana. Foto pernikahan anak-anak sengaja aku tempatkan di dinding yang sama, supaya bila aku rindu pada mereka aku dapat mernandanginya satu persatu dengan detail.Tetapi satu minggu terakhir ini, aku lebih memperhatikan foto pernikahan Aji daripada dua anak perempuanku yang lain. Yah, aku melihat foto pernikahan itu merupakan pernikahan yang agung. Pakaian adat Jawa yang mereka kenakanpas di badan yang biasa disebut dengan basahan itu menujukkan betapa khidmat dan agungnya prosesi pernikahan itu berlangsung. Mereka berdua nampak anggun dengan pakaian kebesaran keratin. Aku melihat foto pernikahan lagi. Ya, semuanya sempurna, saat pernikahan itu berlangsung dua tahun yang lalu. Namun semua itu telah berbalik. Perasaanku sebagai ibu melihat kejanggalan yang terjadi pada Aji.
Beberapa hari yang lalu anak lelakiku itu pulang dengan wajah murung."Bagaimana kabar Susan dan si kecil Safira. Ibu kangen pada mereka, seharusnya kau membawa serta mereka," kataku. Aji mendesah pelan. "Orang tua Susan menyarankan si kecil tidak terlalu sering bermain di luar. Takut kalau-kalau Safira jatuh sakit karena kena angin dalam perjalanan."Oh ya? Mengapa begitu. Bukankah aku dan suamiku juga kakek dan neneknya, kami juga diserang rasa rindu pada cucu kami. Sementara Aji ini memang Aji yang masih menumpang di rumah mertuanya. Mereka tinggal bersama di sana, dan belum memiliki rumah sendiri. Besanku itu seharusnya mengetahui kerinduan kami pada cucu. Bukankah mereka selama ini selalu bersama Safira? Apa salahnya sesekali atau sebulan sekali Safira gantian bersamaku.Mungkin benar dugaan kami, orang tua Susan memang terlihat ketidaksukaannya pada keluarga kami. Awalnya hanya tidak suka pada Aji. Semua ini karena ketidakmampuan Aji mencukupi ekonomi rumah tangga yang dibinanya. Ketidaksukaan itu akhirnya sampai juga pada kami sekeluarga. Mereka tampak sekali kurang menghargai saya atau suami saya. Banyak hal terlihat perasaan itu, seperti saat Susan tinggal di rumah kami, orang tua Susan selalu saja dengan nelepon berkali-kali dan meminta untuk pulang dengan alasan rumahnya sepi. Apalagi kini, kehadiran Safira semakin mempertajam keburukan itu pada kami. Mereka tidak ingin Safira datang ke rumah. Ada saja alasan yang dikemukakan supaya Safira tidak diajak bertandang ke rumah. Mungkin bagi mereka Safira adalah cucu pertama sehingga ada perasaan untuk memilikinya lebih kuat. Sementara bagi kami kedua kakak Aji sudah memberi masing-masing dua dan tiga anak, sehingga menurut mereka Safira bukan cucu yang istimewa. Padahal tidak demikian,aku menganggap sama semua cucu-cucu kami. Seperti cucu kami yang lain, aku merasa bila lama tak bertemu dengan Safira ada perasaan rindu yang sangat dalam."Lho, kan terakhir ke sini tiga bulan yang lalu. Ibu kangen pada Fira. Pasti lagi lucu-lucunya, " ujarku, aku minta pada Aji untuk membawa serta Fira bila datang ke sini lagi."Waktu ulang tahun pertama dirayakan ya?""Ya! Kakeknya yang minta sebagai tanda syukur. Tapi sekadar pesta anak-anak.
Hanya mengundang anak-anak tetangga di sekitar rumahnya."Aku melihat wajah Aji yang terlihat murung, Padahal sebelum menikah ia adalah pemuda yang enjoy dengan segala kegiatannya. Ia juga disukai masyarakat di sekitar kami karena ia pintar bergaul dan dapat menghimpun masyarakat di sini. Itulah sebabnya ia selalu senang. Ya, lingkungannya selalu menerimanya dengan baik. Tapi beberapa waktu setelah menikah perubahan itu sedikit demi sedikit kian nampak. Ia tidak pernah terbuka padaku. Tidak seperti orang lain yang kuketahui, ia tidak menceritakan betapa senang memiliki anak usia satu tahun. Padahal dua anakku yang lain Wita dan Feni selalu menceritakan perkembangan anak-anaknya dari waktu ke waktu satu demi satu, Perasaanku sebagai seorang ibu tentu tak nyaman melihat kondisi Aji seperti itu. Ada beban yang berat yang tengah bergelayut di fikirannya.Sesaat ia merebahkan badannya di kasur yang terhampar di ruang tengah yang biasa kami gunakan untuk menonton TV. Ia tentu ingin sedikit rileks, bukankah ini di rumahnya sendiri. Hal ini tentu sangat sulit dilakukan di rumah mertua. Sudah pasti ia serba canggung."Ibu buatkan wedang jahe hangat ya...?" kataku menawarkan minuman kesukaannya."Ya..., boleh," jawabnya sambil mengganti-ganti chanel TV dari remote control yang dipegangnya.
Aku bergegas membuatkan wedang jahe panas. Tinggal menuangkan satu bungkus jahe instan, kemudian diseduh dengan ditambah sedikit gula, sudah jadi."Ini," kataku sambil mengulurkan cangkir padanya, Aji pun mengubah posisinya jadi duduk. Dan menerima cangkir dari tanganku.Aku lalu mengambil tempat duduk tidak jauh darinya.“Ji, ibu ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi dengan dirimu. Boleh dong...?" tanyaku santai membuka pembicaraan serius itu."Tentang apa, Bu?" Aji justru balik bertanya padaku."Akh kau. Ya tentang rumah tanggamu. Ibu melihat begitu banyak beban berat yang tengah kau sandang, Perasaan ibu mengatakan ada masalah yang sedang engkau hadapi, anakku. Itu kalau ibu boleh tahu..." kataku pelan-pelan. Tentu saja dengan memberi sedikit senyum padanya.Sifat Aji lebih tertutup dibanding anak-anakku yang lain. Kali ini aku tak ingin membiarkannya menanggung beratnya beban seorang diri.
Dan sepertinya Aji sudah cukup berat menahannya."Kalau ibu tidak boleh tahu, ya apa boleh buat. Kalau kamu tidak bercerita tentu saja ibu hanya menebak-nebak saja," kataku lagi setelah menunggu Aji tidak juga menjawab pertanyaanku.Aji menatapku tajam. "Ibu pasti lebih tahu masalah-masalah rumah tangga. Aji baru menikah dua tahun yang lalu, sementara ibu sudah hampir tiga puluh lima tahun mengarungi rumah tangga."Aku tersenyum mendengar tutur katanya. Ada kesempatan untuk mengetahui saat ia mau membuka pembicaraannya, "Tetapi kalau kau tidak menceritakan semuanya itu, ibu tidak akan pernah tahu."Ia menarik nafas panjang. Beban berat itu masih terlihat jelas. "Saya sebenarnya tidak ingin tinggal di rumah orang tua Susan seperti sekarang ini. Banyak faktor yang mengurangi ketidakleluasaan saya sebagai kepala rumah tangga. Ayah Susan mengatur banyak hal mengenai urusan rumah tangga saya dan Susan. Yah, contoh sederhana saja, masalah Safira. Mereka sayang sama Fira. Banyak materi yang mereka limpahkan pada Fira.""Apa salahnya bila kakek dan neneknya memberikan benda-benda pada cucunya. Malah sebaliknya harusnya kau senang," kataku malah membela mertua Aji.
Aji mendengus. "Ibu..., kalau itu dilakukan hanya sekali dua kali tidak masalah bagi saya. Katakanlah sebagai hadiah, misalnya. Tapi kalau berlebih tentu saja saya tidak suka. Yang saya inginkan biarlah Fira memakai pakaian dan segala kebutuhan sesuai dengan kemampuan orang tuanya."Aku mendengarkan semuanya dengan tekun. “Jadi kau tersinggung? ""Tentu saja, Mereka selalu menganggap saya, sebagai suami dan ayah yang tidak mampu membelikan kebutuhan istri dan anak," nada suara Aji semakin meninggi. Ia terbawa emosi."Kau harus bersabar," pintaku, memang tidak mudah menyatukan diri dari dua latar belakang yang berbeda. "Bagaimana sikap Susan?""Hal ini juga yang membuat Susan meremehkan kemampuan saya.
Dua tahun usia pernikahan kami, bukannya membuat Susan menghargai saya. Semakin hari semakin menurun penghargaan Susan terhadap saya," ujarnya pelan. Seakan-akan dia mengatakan bahwa masalah ini seharusnya menjadi rahasia rumah tangga.Aku terkejut mendengarnya, kucoba untuk bersikap tenang. Namun aku meminta Aji untuk selalu mengalah, Bukankah selama ini Susan selalu terbiasa hidup enak dan segala yang diinginkannya selalu dipenuhi oleh ayahnya, "Hidup penuh cobaan. Pelan-pelan kau beritahu Susan masalah-masalahmu itu. Mintalah bantuannya untuk menghadapi semua ini. Bicarakan baik-baik pemecahan yang mungkin dilakukan. Misalnya kalian mengontrak rumah, supaya bebanmu berkurang.""Sebenarnya Susan setuju, tapi lagi-lagi ayahnya tidak,""Pelan-pelan kau beritahu istrimu,
Bukankah kalian saling mencintai. Mintalah pengertiannya. "Aji hanya mengangguk-anggukkan kepala.Aku yakin masalah yang sedang melandanya bukan masalah itu saja. Ia hanya menceritakan sedikit dari masalah sesungguhnya yang tengah dihadapinya.Suara azan magrib membangunkanku dari tempat duduk untuk segera mengambil air wudhu. "Ibu sholat magrib dulu."Namun usai sholat magrib Aji sudah berpamitan untuk pulang ke rumah Susan. "Saya sudah bilang pada Susan akan pulang setelah magrib."Tengah malam aku terbangun dari tidur. Fikiranku kini kembali melayang pada masalah Aji.
Rasanya sulit sekali untuk memejamkan mataku lagi. Sementara suamiku masih terbuai dalam tidurnya yang sangat lelap.Akh, susah sekali mata ini terkatup. Aku rasa akan lebih baik bila aku mengambil air wudhu dan sholat tahajud. Aku akan merasa lebih tenang daripada tidur dalam kegelisahan.Aku pun turun dan berwudhu. Aku menghadap pada Tuhan untuk meminta pertolonganNya. Sungguh tiada tempat yang tepat untuk meminta dan bermunajat selain pada Tuhan. Kegelisahanku kali ini benar-benar untuk anakku. Aku menyayangi Aji, aku tak ingin melihat ketidak bahagiaan Aji dalam rumah tangganya.
Aku memohon pada Tuhan untuk memberi kebahagiaan pada anakku. Bukankah Tuhan telah menyatukan mereka dalam ikatan pernikahan yang sah? Itulah sebabnya, biarkan mereka selalu dalam kebahagiaan. Aku memohon Tuhan memberi petunjuk pada mereka, sehingga Aji dapat kebahagiaannya lagi. Doa demi doa aku mohonkan untuk anakku.Sejak saat itu, aku tak pernah melewatkan tengah malamku tanpa sholat tahajut. Aku yakin Tuhan akan mendengar doa orang bersungguh-sungguh, Aku ingin Aji selalu dalam keadaan bahagia seperti aku dan suamiku. Aku ingin Susan bisa memahami kondisi Aji tanpa terus menerus mencelanya. Aku benar-benar khawatir hal ini berdampak lebih jauh seperti perceraian atau depresi berat yang harus diterima Aji. Tidak! Aku'tidak menginginkan semuanya itu untuk Aji. Dalam doaku seringkali tanpa terasa tiba-tiba air mataku mengalir. Sebagai ibu tak ada yang lebih berharga daripada kebahagiaan untuk anak-anaknya.
Setiap kali Aji datang aku selalu menasihatinya dengan hati-hati. Aku meminta padanya untuk sabar menghadapi cobaan yang tengah melanda dirinya.Begitulah yang selalu aku lakukan. Doaku tak pernah putus."Bu, Susan akhirnya mau untuk mengontrak rumah sendiri," kata Aji suatu ketika saat datang ke rumah bersama Susan dan Fira. Oh, tentu saja ini menjadi berita gembira buatku.“Ya, kami bertekad memulai dari bawah, Bu," kata Susan yang duduk memangku Fira. "Mungkin ini lebih baik dengan mengawali dari titik terendah. Yah, selama ini ayah saya meminta saya untuk tinggal dan menemaninya.
Tapi saya kira sudah cukup lama kami tinggal bersama dan itu dapat berakibat tidak baik bagi kami di kemudian hari."Oh, syukurlah. Aku bahagia mendengar anak dan menantuku memutuskan mengawali rumah tangganya secara sempurna. Mandiri sebagaimana rumah tangga umumnya, meskipun aku yakin masih banyak kekurangan yang akan mereka hadapi nantinya.Doaku pada Tuhan ternyata tak sia-sia. Tuhan mendengar semua doa dan keluh kesahku. Tuhan telah membukakan hati anak dan menantuku untuk menempuh kehidupan rumah tangga yang baik. Sujud syukur pun segera aku lakukan pada Tuhan.
(Ingati bila Sunyi, Rindui bila Jauh, Fahami bila Keliru, Nasehati bila Lalai dan Maafkan bila Terluka. Alangkah Indahnya ukhuwah bila sgalanya karena Allah SWT)

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home