Saturday, March 29, 2008

KULIAH IDEAL

Kuliah Ideal Ditulis Oleh Fatah Syukur Sumber: Harian Suara Merdeka24-03-2008,
Ada seorang dosen senior pernah protes karena mahasiswa di kelasnya tidakmemperhatikan pelajaran, malah justru bercanda dan bergurau denganteman-temannya. Ia merasa tersinggung, dan melaporkan kelakuan mahasiswayang dianggapnya tidak sopan itu kepada dekan. Setelah diusut perkaranya,ternyata akar masalah ini bukan hanya berasal dari kesalahan mahasiswa,tetapi pada dirinya sendiri. Mahasiswa bergurau karena merasa bosanmendengarkan 'dongeng' yang dibacakan oleh sang dosen dari diktat 10 halamanmiliknya.Hal itu memang bukan persoalan baru dalam dunia perkuliahan. Dalam sebuahkesempatan dialog mahasiswa dengan bidang akademik IAIN Walisongo, seorangmahasiswa mengkritik habis-habisan beberapa dosen yang menurutnya tidakbermutu. Dosen-dosen yang tidak siap dengan materi yang diajarkan, sehinggahanya memberikan ceramah ngalor-ngidul tentang anak-anak dan tetangganya,atau bercerita pengalamannya di luar negeri yang sama sekali tidak nyambungdengan bahan kuliah. Dosen yang selalu mengancam akan memangkas nilai jikaada mahasiswa yang kritis mengkritik.Mahasiswa itu menuntut agar dalam mengajar, hendaknya dosen tak melulumemberikan ceramah. Metode ceramah seakan menempatkan mahasiswa sebagaibotol kosong yang harus diisi. Padahal menurutnya, mahasiswa adalah manusiadewasa. Mereka sudah memiliki bekal potensi dan referensi dari berbagaisumber, bukan lagi botol kosong yang harus diisi dengan ceramah-ceramah sangdosen. Di era informasi, sumber pengetahuan bisa didapatkan dari mana saja,bukan semata-mata dari dosen. Dosen hanya sebagian kecil dari sumberinformasi. Justru di luar itu, banyak informasi yang bisa didapatkan melaluibuku-buku, jurnal, koran, internet, seminar-seminar dan sebagainya. Olehkarena itu, kalau dosen masih beranggapan bahwa dialah satu-satu sumberinformasi, maka dia akan ketinggalan dari dunia informasi yang lain. Apalagikalau stok informasi yang dimilikinya tidak selalu di-upgrade, maka jelasdia akan terlihat 'kuper'. Betapa idealnya seandainya idealisme mahasiswa tersebut merupakan gambaranmayoritas mahasiswa kita dan kemudian diimbangi dengan idealisme dari dosenuntuk meningkatkan semangat keilmuannya. Berangkat dari pengalaman sayalebih kurang selama delapan tahun sebagai dosen yang belum senior,menunjukkan bahwa prosentase mahasiswa yang mempunyai kesadaran intelektualdan idealisme jumlahnya sangat kecil. Dalam satu kelas rata-rata kurang daridua puluh lima prosen, sedang yang lainnya biasa-biasa saja dan lebih banyakpasif.Idealisme dosen Ada seorang dosen senior yang memperoleh kesempatan mengikuti program doktorbebas terkendali terheran-heran setelah melihat proses perkuliahan yangdilaksanakan oleh dosen-dosen muda baik yang alumni S-2 atau S-3. Ternyataproses perkuliahan mereka sudah seperti di S-2 atau S-3; banyak membuatmakalah, seminar, dan brainstorming. Tidak jarang mahasiswa mendebat dosen,kalau referensinya tidak atau kurang akurat. Sebelum mendapat kesempatanmengikuti kuliah doktor, dia mengira bahwa model kuliahnya lah yang palingideal. Padahal tidak. Banyak dosen muda sudah melaksanakan model sebagaimanadi pasca sarjana, walau tidak sepenuhnya.Idealnya, setiap awal masa kuliah, seorang dosen memaparkan prospectusperkuliahan yang akan diajarkan dalam satu semester ke depan, meliputitujuan yang ingin dicapai, silabi perkuliahan, buku-buku rujukan, pendekatandan metode-metode perkuliahan dan sistem evaluasi. Memang tidak semua dosenmelakukan hal seperti itu, seperti tidak disediakan silabi, ataupunbuku-buku rujukan dan sistem evaluasi yang tidak diberitahukan kepadamahasiswa. Ada beberapa kemungkinan, mungkin karena dosen tidak sempatmembuat silabi yang siap disampaikan kepada mahasiswa atau mungkin dosensengaja menyembunyikan langkah-langkah yang akan diajarkan supaya tidakdiketahui oleh mahasiswa. Dalam pemaparan prospectus tersebut, mahasiswa dipersilakan untukberpartisipasi sebagai bagian dari pendidikan orang dewasa dalam sistemandragogi. Misalnya apakah sillabi yang disampaikan perlu ditambah,dikurangi atau perlu direvisi. Apakah ada sumber-sumber rujukan yang lainselain yang disampaikan oleh dosen. Apakah sistem evaluasi dan metode yangdiusulkan oleh dosen dapat disepakati, termasuk kesepakatan-kesepakatantentang sanksi-sanksi dalam kuliah. Setelah semua disepakati, maka semuayang terlibat dalam mata kuliah tersebut akan terikat dengan kesepakatanitu. Namun sayangnya, dalam realita, sangat sedikit mahasiswa yang memanfaatkanmomen tersebut. Hanya ada satu atau dua mahasiswa yang aktif merespons.Rata-rata mereka langsung menerima prospectus tersebut sebagai informasiyang harus diterima. Bahkan anehnya ada beberapa mahasiswa yang tidak pedulidengan prospectus tersebut, dan menganggapnya hanya angin lalu. Akibatnyasudah bisa ditebak, ibarat orang mau berjalan, sudah disediakan denah ataupeta yang jelas, lengkap dengan petunjuk kompasnya, namun tidak maumemanfaatkannya, ya seperti berjalan tanpa arah, tanpa persiapan dan tanpabekal. Bagaimana bisa diharapkan tumbuh idealisme dari mahasiswa yangdemikian?Dosen sudah berusaha memberikan jalan agar mahasiswa dapat mengakses sumberinformasi lain, namun mahasiswa tidak peduli. Masih banyak mahasiswa yanghanya menggantungkan pada dosen sebagai satu-satunya sumber informasi. Bukureferensi yang sudah ditunjukkan tidak pernah dicari, dengan berbagai alasanseperti sulit dicari, harganya mahal dan sebagainya. Bagi sebagian dosenmungkin ini menguntungkan, karena memposisikan dirinya sebagai orang pintardan 'paling tahu segalanya'.Bila ada dosen yang menugaskan membuat makalah dan presentasi, apalagi yangbersifat individual, banyak mahasiswa yang mencap dosen itu sebagai "dosenbanyak tugas". Mengapa makalah harus sekian halaman, harus dengan sekianreferensi. Atau mereka berkata, "makalah kelompok saja, Pak." Atau, "pakaimetode ceramah saja, Pak." Kuliah dengan sistem seminar (ada mata kuliah tertentu yang tidak cocokdengan sistem ini), dimaksudkan agar partisipasi mahasiswa lebih banyak.Mereka dapat langsung mencari dari sumber rujukan yang ditunjuk, sekaligusdapat menganalisis dan menyusun pola pikir dengan baik dan sistematismelalui presentasi di kelasnya. Dari makalah itu, dosen dapat memberikanmasukan maupun menerima masukan ilmu. Demikian pula mahasiswa yang lain,tanpa dia harus mendalami semua topik yang diajarkan. Dengan demikian akantercipta kondisi 'saling belajar'.Prospectus yang telah disampaikan oleh dosen di awal perkuliahan mestinyadijadikan sebagai pedoman, persiapan apa yang harus dibawa untuk mengikutisetiap perkuliahan sesuai dengan topiknya, bukan hanya topik makalah yangditugaskan kepadanya. Mahasiswa juga dapat 'mengatur strategi' dalammenghadapi ujian dari dosen sesuai dengan kesepakatan di kuliah awaltersebut. Karenanya, masa awal perkuliahan sangat penting. Di universitas tempat saya mengajar, IAIN Walisaongo Semarang, peraturanagar dosen masuk kelas sesuai jadwal yang ditentukan telah lamadiberlakukan. Jangan sampai ada kelas kosong pada minggu-minggu pertamakuliah. Hasilnya cukup lumayan, untuk Fakultas Tarbiyah, lebih dari delapanpuluh prosen dosen sudah memulai perkuliahan sejak minggu pertamaperkuliahan. Namun peraturan tersebut belum menyentuh seluruh mahasiswa.Saat kuliah pertama, rata-rata kelas hanya berisi tigapuluh persen mahasiswasaja. Alasannya macam-macam, ada yang masih di kampung, ada yang masih bataltambah, ada yang mengatakan belum penting dan sebagainya. Itulah realitaskampus kita.Selain ketidakdisiplinan, perkuliahan juga dihambat oleh rendahnya sikapkeingintahuan baik di pihak dosen maupun mahasiswa. Akibat rendahnya sikapcuriosity ini, orang akan mudah puas dengan apa yang dimilikinya. Lebih dariitu, ada kecenderungan sikap arogansi intelektual. Merasa sudah pintarsehingga tidak perlu belajar lagi. Ini pernah saya alami ketika menyampaikansebuah undangan dari panitia pelatihan manajemen IAIN kepada seorang dosenyunior. Responsnya sangat tidak saya duga. Dengan angkuh dia mengatakan,"ah, manajemen paling kayak gitu".Betapa arogannya dia sehingga merasa tidak perlu meng-upgrade ilmu yangpernah ia dapatkan, beberapa tahun silam. Padahal ilmu pengetahuan telahberkembang sangat cepat. Lima tahun yang lalu, komputer dengan prosessor 486Hz sudah dianggap canggih, namun sekarang, pentium sudah mencapai generasikeempat, dan akan terus berkembang.Rendahnya sikap curiosity telah menghambat orang untuk selalu terbukaterhadap pengetahuan baru. Dulu orang belajar sesuatu harus berhadapanlangsung dengan guru, datang ke majlis pengajian. Kini, dengan kecanggihanteknologi, dari ruang kamar yang berukuran dua kali tiga meter pun orangbisa mengakses berjuta informasi melalui internet, tanpa harus bertemudengan guru. Dulu kalau kita ingin membaca tafsir, harus membeli kita-kitabyang tebal dan harganya mahal, sekarang hanya dengan sebuah note book dansekeping CD al-Qur'an sudah lengkap ayat-ayat dan tafsirnya dari beberapakitab. Demikian pula hadits kutubussittah yang memuat sembilan kumpulankitab-kitab hadits besar, dapat diakses hanya dengan sekeping CD. Untukbelajar bahasa, mulai dari anak-anak sampai dewasa, tidak harus datang ketempat kursus, sekarang sudah banyak CD program belajar bahasa. Namun demikian, untuk menuju ke arah itu masih ada realitas lain, yaknifaktor ekonomi. Masih ada dosen yang tidak memiliki perpustakaan pribadi dantidak mau datang ke perpustakaan. Buku-buku yang dipakai untuk mengajar dikelas tidak pernah berubah sejak awal dia mengajar sampai pensiun. Masih adadosen yang belum memiliki komputer, apalagi mengakses internet. Barangkalialasan klasik yang dikemukakan adalah gaji yang diterima dosen tidak cukupuntuk membeli buku, langganan koran, langganan internet dan sebagainya. Itumemang kenyataan bahwa gaji dosen di negeri kita masih jauh lebih kecil biladibandingkan dengan gaji guru SLTP di Malaysia. Tetapi itu bukan alasanutama untuk tidak mau berkembang dan mengembangkan pengetahuan yangdimilikinya. Di kalangan mahasiswa, faktor ekonomi ini juga menjadi alasan. Katanya uangsaku dari rumah tidak cukup untuk membeli buku. Tetapi kenapa tidak keperpustakaan? Katanya, perpustakaan bukunya terbatas. Ya memang benar,perpustakaan yang kita miliki, masih jauh dari memadai. Idealnya, satu orangdapat meminjam buku antara 20 sampai 25 buku dalam jangka waktu dua bulan.Sehingga untuk membuat makalah dapat leluasa mencari referensi diperpustakaan. Akan tetapi kalau kita menunggu kondisi ideal, apakah kitabaru akan maju setelah kondisi ideal? Sampai kapan?Ada pengalaman menarik sewaktu kuliah di S-1. Ada seorang teman yang uangsaku dari orang tuanya jumlahnya jauh lebih kecil dibandingkan denganteman-temannya satu kost. Katakanlah waktu itu rata-sata uang saku mahasiswaper bulan antara Rp 45 ribu sampai Rp 60 ribu. Sementara uang saku seorangteman tersebut maksimal hanya Rp 10 ribu plus beras 10 kg. Tetapi teman yangsatu ini dapat membeli buku paling tidak 2 sampai 3 buku setiap bulan.Sementara yang uang sakunya banyak ternyata habis untuk makan, jalan-jalandan beri berbagai aksesoris. Kuncinya adalah pada kemauan, Rp 10 ribumerupakan modal awal yang dapat dikembangkan. Kebetulan dia hobi menulis,dengan modal itu ia belikan buku, kemudian diresensi dan dikirim ke mediamassa. Dari tulisan tersebut ia mendapatkan uang, dan dari klipping tulisantersebut yang dikirimkan ke penerbit, ia mendapatkan buku-buku baru.Sekali lagi, di mana ada kemauan di situ ada jalan. Tak ada rotan, akar punjadi.Fatah Syukur, mantan aktivis pers mahasiswa akhir tahun delapan puluhan.Sekarang berprofesi sebagai dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang,dan Vice Editor in Chief Jurnal Ihya Ulum al-Din